Permafrost menyimpan sejumlah besar material organik yang membeku selama ribuan tahun. Ketika tanah tersebut mencair, material organik mulai terurai dan dapat melepaskan gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana ke atmosfer.

Artinya, mencairnya permafrost bukan hanya akibat dari planet yang semakin hangat. Proses tersebut juga berpotensi menambah gas rumah kaca yang memperkuat pemanasan. Di sinilah Batagaika menjadi paradoks.

Semakin besar lubang tersebut, semakin banyak sejarah Bumi yang bisa dipelajari. Ilmuwan dapat melihat ekosistem yang sudah hilang, mempelajari perubahan iklim masa lalu, bahkan menemukan jasad hewan yang membeku selama puluhan ribu tahun.

Tetapi pada saat yang sama, semakin besar lubangnya, semakin banyak pula permafrost yang hilang. Batagaika akhirnya menjadi semacam mesin waktu sekaligus alarm. Ia membuka jendela menuju dunia Siberia ratusan ribu tahun lalu, tetapi proses yang membuka jendela itu menunjukkan bahwa lanskap beku Bumi sedang berubah sekarang. Dan perubahan tersebut bukan terjadi dalam skala waktu geologis. Batagaika bertambah besar puluhan meter setiap tahun.

Artikel ini telah tayang di NadiKabar. Baca selengkapnya di sini.