Kekalahan ini terasa kian pahit bagi Darije lantaran dua gol cepat Persib tercipta dalam kurun waktu kurang dari lima menit. Ia secara khusus menyoroti gol pembuka lawan yang lahir dari situasi bola mati, sebuah skema yang sebenarnya sudah diantisipasi dalam latihan.

"Saya merasa disayangkan bahwa gol pertama berasal dari sepak pojok dan bukan dari skema permainan terbuka pemain Persib Bandung. Namun gol tetaplah gol. Dan bagi saya itu menyakitkan karena kami sangat memperhatikan sepak pojok dan set piece dari Persib Bandung. Jadi, saya perlu melihat kembali momen ini, tetapi saya tidak senang gol pertama terjadi dari set piece sepak pojok," ungkap Darije.

Saat tertinggal 2-1, PSM berupaya bangkit untuk menyamakan kedudukan. Ada momen krusial yang dianggap berpotensi penalti, namun wasit memiliki penilaian berbeda.

"Kami mendapat satu atau dua situasi untuk melakukan itu. Ada juga momen potensi penalti, yah, saya belum melihat momen itu kembali, tetapi banyak orang bilang itu penalti. Tapi tentu saja, banyak juga yang bilang itu bukan penalti," tambahnya.

Persib akhirnya mengunci kemenangan lewat gol ketiga yang memanfaatkan keunggulan kualitas pemain mereka. "Dan pada akhirnya, dengan kualitas dan kekuatan yang dimiliki Persib, mereka membuat perbedaan dan mencetak gol kemenangan ketiga. Setelah itu, pertandingan pun berakhir," pungkas Darije.