"Terus saudara saya kan dibawa, kayak diaraklah, kayak diarak pakai naik motor kan dia ramai-ramai. Satu motor itu, jadi saudara saya di tengah, di depannya laki-laki, di belakangnya laki-laki. Jadi dua laki-laki, saudara saya di tengah tuh sambil dipegangin. Dibawa ke gedung mana, ke gedung tempat dia acara hajatan," lanjut dia.

Di gedung tersebut AAN ditunjukan rekaman CCTV. Dalam rekaman itu pelaku yang mengambil amplop mengenakan gamis hitam dan sepatu putih.

"Nah, di situ minta rekaman CCTV-nya mana pelakunya. Nah, akhirnya pas dilihat kan baju hitam, akhirnya dia minta dia ganti baju hitam buat dicocokin segala macam, kan. Jelas-jelas itu pun emang sangat jauh berbeda kan sama yang di CCTV," imbuhnya.

"Nah posisi pada saat kejadian sebenarnya mah nggak pakai baju hitam. Pakai kerudung merah, baju garis, celana cokelat, sama sepatu putih. Tapi di tasnya kan emang ada baju bekas nge-gym. Baju bekas nge-gym-nya kan manset warna hitam, bajunya warna abu-abu, celananya warna hitam," sambung dia.

AMK menyebut, tuduhan keluarga pelaku kepada AAN hanya berdasarkan warna sepatu putih yang sama seperti di CCTV. Pelaku kemudian mencari-cari orang dengan ciri demikian.

"Sebenarnya berdasarkan CCTV, nih CCTV keluarga yang punya hajatan itu dilihat pelaku malingnya pakai sepatu putih. Nah, jadi keluarga itu kan iya, keluar apa jadi keluarga yang hajatan itu muter tuh. Muter ke luar gedung, kan. Keluar gedung melihat saudara saya lagi jalan pakai sepatu putih, langsung ditabrak," katanya.

Di samping itu, saat AAN dibawa ke gedung hajatan ternyata lokasinya tak jauh dari kantor tempatnya bekerja. Kemudian AAN diketahui sekuriti kantornya dan ikut mengawal.