NADIKABAR.COM — Rangkaian kereta rel listrik (KRL) jalur merah (Red Line) produksi dari PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA kembali bermasalah. Kondisi ini menuai berbagai keluhan dari anak kereta (Anker).

KAI Commuter menyampaikan tujuh perjalanan KRL Red Line atau lintas Bogor dibatalkan pada Senin (19/10/2026) pagi. Pembatalan dilakukan karena kereta tersebut harus menjalani perawatan sarana.

"Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Sehubungan adanya perawatan pada sarana kereta yang saat ini sedang dalam penanganan petugas terkait, KAI Commuter melakukan penyesuaian pola perjalanan," tulis KAI Commuter dalam akun X miliknya, Senin (19/10).

Sementara itu, perjalanan Commuter Line lainnya tidak terganggu dan berjalan normal. KAI Commuter mengimbau penumpang untuk mengikuti aturan dan arahan dari petugas.

"Kami mengimbau kepada para pelanggan untuk mengikuti arahan dan informasi dari petugas di lapangan, serta dapat mengatur kembali perjalanan dengan memeriksa jadwal Commuter Line melalui aplikasi C-Access, Access by KAI, dan website https://kci.id. Pembaruan informasi diupdate seiring dengan perkembangan di lokasi," katanya.

Berikut perjalanan KAI Commuter Red Line yang mengalami penyesuaian:

- KA 1157 (Bogor-Jakarta Kota), dengan jadwal keberangkatan pukul 04.03 WIB, dibatalkan.- KA 1124F (Depok-Bogor), dengan jadwal keberangkatan pukul 05.33 WIB, dibatalkan.- KA 1154 (Jakarta Kota-Bogor), dengan jadwal keberangkatan pukul 05.36 WIB, dibatalkan.- KA 1195F (Cilebut-Jakarta Kota), dengan jadwal keberangkatan pukul 06.22 WIB, dibatalkan.- KA 1013A (Bogor-Manggarai), dengan jadwal keberangkatan pukul 07.16 WIB, dibatalkan.- KA 1192F (Jakarta Kota-Depok), dengan jadwal keberangkatan pukul 07.48 WIB, dibatalkan.- KA 1014 (Manggarai-Bogor), dengan jadwal keberangkatan pukul 08.37 WIB, dibatalkan.

Pembatalan perjalanan tersebut menuai berbagai keluhan dari Anker. Seorang penumpang, Choirunisa, menceritakan pengalamannya berdesak-desakan saat mengantre masuk KRL pagi tadi.

Choirunisa mengaku tiba di Stasiun Depok Baru pada pukul 06.30 WIB pagi tadi. Saat itu, peron sudah dipenuhi banyak anker (anak kereta) atau penumpang yang menunggu kedatangan KRL.

Ia mengatakan KRL yang tiba di Stasiun Depok sudah padat, sehingga setiap KRL yang datang hanya bisa dinaiki sekitar tiga hingga lima orang saja setiap pintunya. Akhirnya dia berhasil menaiki KRL saat kedatangan kereta keenam.

"Biasanya jam setengah 7 itu nggak separah ini sih ramenya, kayak 3 kali lipatnya, karena setiap kereta yang datang dari ratusan orang yang tunggu di peron cuma 3-5 orang yang naik per pintu keretanya. Aku baru kedapatan pas kedatangan kereta ke 6," kata Choirunisa, saat dihubungi, Senin (19/10).

Ia menaiki kereta khusus wanita pagi tadi. Di dalam gerbong tersebut, ada anker yang kesulitan turun di stasiun karena banyaknya penumpang yang tidak bisa bergeser.

"Kalau pas masuknya pasti sih berebutan, tapi tadi di gerbong yang aku naikin ada beberapa yang minta geser mau turun, karena bener-bener nggak bisa gerak, jadi pada ketawain aja karena kondisinya yang sepadat itu," ujarnya.

Menurutnya kondisi KRL Bogor tadi pagi sangat padat, bahkan melebihi 'pepes'. Sebab, ia mengaku sampai berjinjit dan kakinya kesulitan menapak di dalam kereta.

"Bukan pepes lagi ya, bener-bener nggak napak kakinya. Dari aku datang jam setengah 7, baru naik jam setengah 8 kurang," katanya.

Kepadatan penumpang mulai berkurang saat penumpang turun di Stasiun Pasar Minggu. Ia mengaku sudah lemas saat tiba di kantor karena padatnya KRL tersebut.

"Definisi I hate Monday sampe kantor udah lemes duluan perkara banyak cancel jadwal KRL red line commuter line. Selain nggak bisa gerak, jari-jari kaki dilatih militer nahan jinjit dari Depok Baru-Tebet," katanya melalui akun Threadsnya @choirunisanurr.

Salah satu penumpang KRL, Sabrina (25), juga menyampaikan keluhannya. Dia mengaku harus menunggu sekitar 20 menit di Stasiun Bojong Gede sebelum bisa masuk kereta untuk menuju Stasiun Tebet. Dia mengatakan harus menunggu lebih lama karena kereta yang datang sudah sangat padat.

"Mungkin hari ini kelihatannya lebih padat dari biasanya, karena biasanya aku tuh cuma nunggu mungkin paling cuman 10 menit, ini sempat 20 menitan sih aku tunggu," kata Sabrina di Stasiun Tebet, Senin (19/10).

Dia mengatakan kondisi di dalam kereta juga lebih padat daripada biasanya. Dia mengaku tak bisa bergerak di dalam gerbong.

"Kepadatannya benar-benar padat banget sih, aku merasakannya. Karena memang tadi sempat kayak desak-desakan gitu, benar-benar enggak bisa gerak sama sekali dari sisi kita, aku kan ngambilnya gerbong perempuan ya, di gerbong pertama itu enggak bisa gerak," ujarnya.

Penumpang lainnya, Zulfa (17), juga menyebut jalur red line hari ini lebih padat dari biasanya. Dia mengatakan sebagian penumpang yang sudah menunggu di peron sampai tidak bisa masuk kereta.

"Kalau yang ini tadi pagi sih, padatnya tuh padat banget, Kak, sampai orang-orang tuh nggak bisa masuk gitu, Kak. Sebagian yang nggak bisa masuk. Tapi kalau biasanya tuh, kadang masih bisa-bisa maksain, gitu," kata Zulfa.

Zulfa berharap jadwal operasional KRL dapat diatur dengan lebih baik. Dia berharap pembatalan tidak dilakukan di jam sibuk.

"Mungkin lebih kalau misalnya ada pembatalan itu mungkin lebih spesifik untuk penjadwalannya, karena kasihan untuk teman-teman yang lain yang benar-benar pengguna KRL yang setiap hari menggunakan KRL jadi kendala di jadwal yang seharusnya memang dia biasa berangkat jam segitu, terus tiba-tiba harus terlambat sampai kantornya," ujarnya.