Gubernur Irkutsk, Igor Kobzev, mengutip badan pengawas perlindungan konsumen dan kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, mengatakan belum ada laporan mengenai staf lain dari lembaga penelitian wabah pes tersebut yang mencari pertolongan medis sejak teknisi laboratorium itu meninggal.
Rospotrebnadzor mengatakan tim keamanan hayati telah memeriksa Institut Anti-Wabah Siberia dan Timur Jauh di Irkutsk dan tidak menemukan situasi darurat di sana.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov meminta masyarakat agar tidak "mendengarkan berbagai rumor", melainkan "berpegang pada pernyataan resmi Rospotrebnadzor".
Media Rusia melaporkan pekan lalu bahwa hampir 200 orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan perempuan yang meninggal itu berada dalam pemantauan medis sebagai langkah pencegahan.
Ketika seorang wartawan meminta "perkembangan terbaru mengenai dugaan kasus pes di Rusia", Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan:
"Tampaknya ada seorang pekerja di laboratorium yang terinfeksi dan ada kekhawatiran bahwa infeksi itu mungkin telah menyebar, setidaknya secara internal. Kita telah melihat mereka melakukan karantina dan langkah-langkah semacam itu.
"Jika sesuatu seperti ini menyebar ke luar, penyakit itu bisa dengan cepat meluas. Jadi, kami mengawasi dan memantaunya dengan saksama. Saya rasa ini bukan alasan untuk panik, tetapi memang perlu mendapat perhatian dan terus diawasi, dan itulah yang sedang kami lakukan."
Donald Trump mengatakan AS sedang "mencermati dengan sangat serius" kasus tersebut, tetapi belum membahasnya dengan Kremlin (EPA)
Bakteri penyebab pes, atau Yersinia pestis, yang menewaskan hingga separuh populasi Eropa pada abad ke-14 ketika wabah itu dikenal sebagai Black Death, ditemukan pada hewan pengerat seperti marmot di wilayah tersebut.