NADIKABAR.COM — Kementerian Agama (Kemenag) terus mendorong transformasi pendidikan Islam berbasis integrasi ilmu (holistic education) untuk menjawab tantangan masa depan. Tak sekadar wacana, konsep pemaduan ilmu agama dan sains modern ini mulai diterapkan secara konkret, salah satunya melalui riset penyakit khas pesantren di Fakultas Kedokteran kampus Islam.
Hal tersebut ditegaskan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag, Amien Suyitno, dalam acara Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Amien merujuk pada ungkapan populer Imam Syafi'i mengenai pentingnya menguasai ilmu pengetahuan untuk meraih keberhasilan dunia dan akhirat (Man 'arada ad-dunya fa'alaihi bil 'ilmi, wa man 'arada al-akhirata fa'alaihi bil 'ilmi, wa man 'arada-huma fa'alaihi bil 'ilmi). Menurutnya, filosofi inilah yang menjadi akar integrasi tim redaksi sekolah umum, pesantren, dan universitas Islam modern.
"Yang ingin menguasai dua-duanya (dunia dan akhirat) juga butuh ilmu. Jangan-jangan integrasi ilmu itu yang ini. Holistik dalam arti yang integratif," ujar Amien Suyitno.
Sebagai bukti nyata perjumpaan sains dan agama, Amien mencontohkan Fakultas Kedokteran di UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Pendirian fakultas kedokteran di bawah naungan Kemenag ini memiliki keunikan tersendiri dibanding PTN umum.