NADIKABAR.COM — Kementerian Agama (Kemenag) bersama koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam inisiatif NUUR+ menyepakati langkah strategis untuk mempercepat pemanfaatan energi surya di masjid-masjid, melalui Lokakarya Penyusunan Panduan Gerakan Solarisasi Masjid Nasional.

Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung target Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) nasional sebesar 100 gigawatt (GW), sekaligus membuktikan bahwa transisi energi bersih dapat berakar kuat di tingkat komunitas melalui solarisasi rumah ibadah.

"Inisiatif ini luar biasa karena menggabungkan banyak sisi. Pertama, ada nilai agama melalui ekoteologi, ada pengetahuan teknologi tentang betapa potensialnya energi solar ini, serta keterlibatan lembaga filantropi yang mempertemukan dan menggerakkan partisipasi aktif masyarakat secara luas," kata Pelaksana Tugas Direktur Urusan Agama Islam Kemenag Muchlis Muhammad Hanafi, di Jakarta, Kamis.

Ia mengapresiasi upaya kolaborasi solarisasi masjid, karena gerakan ini mengintegrasikan nilai etika keagamaan dengan teknologi dan aksi nyata.

Lebih lanjut, Muchlis menegaskan kesiapan Kemenag dalam mengamplifikasi pesan energi bersih dan ekoteologi ini hingga ke akar rumput melalui jaringan penyuluh keagamaan.

"Kami di Direktorat Penerangan Agama Islam membina 24 ribu penyuluh agama Islam. Mereka tersebar di seluruh Indonesia dan aktif turun dalam program-program dakwah penyuluhan untuk menyukseskan program pemerintah sekaligus memberikan pencerahan kepada masyarakat," ujarnya.

Dewan Pembina MOSAIC (Muslims for Shared Action on Climate Impact) M Ali Yusuf menyatakan bahwa solarisasi masjid harus dilihat secara komprehensif melampaui sekadar pemasangan infrastruktur fisik saja.