NADIKABAR.COM — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengapresiasi seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama (Kemenag) atas kerja kehumasan yang dilakukan secara kolektif dalam mewujudkan pelayanan publik yang efektif dan efisien.

"Penghargaan ini bukan untuk saya sendiri, tetapi segenap karyawan, staf, pimpinan yang lain di Kementerian Agama, dari pusat sampai ke tingkat daerah. Karena penilaian ini adalah penilaian kolektif," ungkap Nasaruddin dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).

Hal tersebut disampaikannya usai menerima Top Government Public Relation (GPR) Figure Award 2026 dalam subkategori Special Achievement for TOP Public Service Digital Transformation Figure 2026 pada ajang 6th TOP GPR Award 2026, Selasa (13/10).

Nasaruddin mengatakan, luasnya cakupan tugas Kemenag membutuhkan koordinasi dan sinergi dari berbagai unsur, termasuk Humas yang bertugas mengomunikasikan kegiatan serta memberikan pelayanan informasi kepada publik.

"Saya juga lebih khusus mengucapkan terima kasih kepada humas kami, andalan kami. Kerja mereka 24 jam karena harus memfasilitasi komunikasi Kementerian Agama," papar Nasaruddin.

Nasaruddin berharap capaian ini dapat dipertahankan sekaligus dijadikan motivasi bagi peningkatan kinerja Kementerian Agama.

"Semoga menjadi motivasi yang lebih baik untuk kita semuanya," ungkapnya.

Nasaruddin terus mendorong transformasi digital dan komunikasi publik untuk menghadirkan layanan keagamaan dan pendidikan yang mudah diakses, efektif, dan responsif. Transformasi ini tidak berhenti pada digitalisasi layanan, tetapi juga menghadirkan cara baru pemerintah berkomunikasi dengan masyarakat.

Melalui penguatan kehumasan dan komunikasi publik, Kemenag membangun komunikasi yang terbuka dan partisipatif. Dengan demikian, Kemenag dapat menyampaikan informasi secara cepat dan akurat, sekaligus mendengar aspirasi publik.

Langkah ini diakui oleh pihak GPR Institute dapat menghadirkan pelayanan publik yang inklusif, transparan, responsif, dan terpercaya.

Metodologi dan Indikator Penilaian GPR Award 2026

Pada pemaparan metodologi penilaian, GPR Institute sebagai pihak penyelenggara, menjelaskan penilaian Top GPR Figure Award 2026 menggunakan pendekatan berbasis jejak digital. Indikatornya mencakup Digital Awareness yang mengukur pencarian dan ulasan terkait figur; Digital Media Aspek, yang mencakup jumlah pemberitaan digital dan sentimennya; serta Social Media Aspek yang mengukur jumlah pengikut, aktivitas, dan keterlibatan di Facebook, Instagram, YouTube, serta TikTok.

Penilaian figur juga mensyaratkan sekurang-kurangnya 90 persen pemberitaan dengan sentimen netral dan positif. Proses pengumpulan data dilakukan melalui riset digital untuk mengukur jejak komunikasi dan reputasi figur di ruang publik.

Sedangkan indikator untuk kategori Special Achievement mencakup kebaruan inovasi, kepemimpinan, manfaat bagi publik, serta potensi replikasi, pelembagaan, dan keberlanjutan. Penilaian tersebut menekankan pentingnya bukti atas inovasi dan manfaatnya, bukan semata-mata frekuensi kemunculan seorang pemimpin di media.

Penghargaan ini menjadi konteks untuk melihat hubungan antara transformasi digital, kualitas komunikasi publik, dan pelayanan kepada masyarakat.

Bagi Kementerian Agama, penguatan kehumasan merupakan bagian dari upaya menghadirkan informasi yang dapat diakses dan dipahami publik, sekaligus mendukung pelayanan keagamaan dan pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.