NADIKABAR.COM — Kementerian Kebudayaan menyambut baik rencana Al Azhar University, Kairo yang berencana menghadirkan Indonesian House sebagai langkah pengenalan budaya Indonesia di Mesir.

"Rumah Indonesia dapat menjadi bentuk konkret kerja sama Indonesia dan Al-Azhar serta pusat pengenalan kebudayaan Indonesia di Mesir dan kawasan Timur Tengah,” ujar Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam keterangan yang dikonfirmasi dari Jakarta, Selasa.

Hal itu ia sampaikan saat melakukan pertemuan dengan Acting President of Al-Azhar University Prof. Dr. Mahmoud Siddiq Hassan di Kairo untuk membahas penguatan kerja sama pendidikan, kebudayaan, bahasa, pertukaran akademik hingga hubungan antarmasyarakat.

Fadli juga mengapresiasi hubungan diplomatik kedua negara yang terjalin dengan baik, terlebih Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia.

Hubungan kedua negara juga berkembang lewat Konferensi Asia Afrika serta gerakan Non Blok.

Al Azhar, juga menjadi universitas dimana sebanyak 23 ribu mahasiswa asal Indonesia menimba ilmu di sana.

Pihak Al Azhar saat ini telah menyiapkan lahan, rancangan, dan konsep arsitektur untuk pembangunan Indonesian House. Gedung tersebut akan menjadi pusat pengenalan budaya Indonesia sekaligus ruang pembelajaran dan kegiatan mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia.

Selain itu, Mahmoud Siddiq Hassan menyampaikan rencana pengiriman akademisi Al-Azhar ke berbagai negara Islam melalui program Visiting Professor yang dibiayai penuh oleh Al-Azhar untuk memperkuat hubungan akademik dan kebudayaan antarnegara.

Sejumlah perguruan tinggi Indonesia telah terlibat, antara lain Universitas Sebelas Maret Surakarta, UIN Jakarta, dan sejumlah perguruan tinggi lainnya.

Saat ini upaya kerja sama dengan sejumlah universitas di Indonesia juga telah diproses.

Dalam pertemuan itu, Al-Azhar menawarkan pula kerja sama publikasi dan riset, termasuk pemberian sejumlah hasil penelitian serta buku pendidikan untuk dimanfaatkan di Indonesia.

Universitas Al-Azhar di Kairo, yang dibangun oleh Dinasti Fatimiah di kisaran tahun 970-972 Masehi adalah pusat utama pengkajian Islam Sunni dan salah satu universitas tertua di dunia yang masih beroperasi.

Kampus yang mengajarkan pendidikan ilmu-ilmu keislaman, sastra Arab, serta ilmu umum seperti kedokteran dan teknik itu menjadi tujuan utama bagi pelajar internasional dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.