"Kementerian Kebudayaan tidak mungkin menjadi satu-satunya institusi yang memajukan kebudayaan. Dengan kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa, kita membutuhkan kerja bersama dengan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, organisasi, perguruan tinggi, serta berbagai pihak lainnya agar potensi kebudayaan dapat dikembangkan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ucapnya.

Fadli menambahkan kelima kerja sama tersebut memiliki peran yang saling melengkapi dalam membangun ekosistem kebudayaan. Infrastruktur dibutuhkan untuk menjaga ruang dan aset budaya, perpustakaan memperkuat pengetahuan, media memperluas jangkauan, Gerakan Pramuka mendukung regenerasi, sementara perguruan tinggi berperan dalam riset dan pengembangan kapasitas.

"Kalau kita lihat secara utuh, kelima kerja sama ini membentuk satu rantai yang saling menguatkan. Infrastruktur menjaga ruang budaya, perpustakaan menjaga pengetahuan, media memperluas jangkauan, Pramuka memperkuat regenerasi, dan perguruan tinggi mengembangkan riset serta kapasitas. Inilah ekosistem yang ingin kita bangun bersama," ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Kerja Sama Kebudayaan Kementerian Kebudayaan, Mardisontori, mengatakan bahwa kemajuan kebudayaan membutuhkan dukungan dari berbagai sektor karena kebudayaan merupakan bagian penting dari pembangunan karakter dan peradaban bangsa. Menurutnya, kerja sama yang dibangun menjadi upaya untuk menyatukan kekuatan nasional melalui bidang yang memiliki peran berbeda tetapi saling mendukung.

"Sinergi yang dibangun melalui Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerja Sama ini merupakan wujud nyata ikhtiar bersama dalam mengonsolidasikan kekuatan nasional. Bersatunya infrastruktur, literasi, penyiaran, pendidikan karakter, dan dunia akademik diharapkan dapat mengoptimalkan potensi sumber daya lintas sektor untuk memperkuat ketahanan budaya bangsa," ucap Mardisontori.