NADIKABAR.COM β Kementerian Kebudayaan tengah menyiapkan kelanjutan program pemulihan ekosistem budaya pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Persiapan ini mencakup rencana perbaikan rumah maestro, penyelamatan cagar budaya dan manuskrip kuno, revitalisasi museum, serta rehabilitasi bangunan dan fasilitas kebudayaan yang terdampak bencana serta diarahkan untuk memperkuat kesiapsiagaan terhadap risiko bencana pada masa mendatang dengan menekankan agar anggaran rehabilitasi pascabencana mempertimbangkan kebutuhan konkret di lapangan.
βAnggaran rehabilitasi bencana harus direncanakan seefektif dan setepat mungkin. Kita perlu mengutamakan kebutuhan konkret di lapangan, bukan hanya kajian. Sejak tahap persiapan, kita juga harus memikirkan langkah antisipasi yang sesuai dengan risiko di setiap lokasi, sehingga anggaran yang tersedia dapat memberikan manfaat nyata,β ujarnya dalam keterangan yang diterima dan dikonfirmasi di Sikka, NTT, Jumat.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Lita Rahmiati, menjelaskan bahwa rencana pemulihan di Aceh mencakup sejumlah objek dan fasilitas kebudayaan yang meliputi perbaikan rumah maestro, rehabilitasi sarana kebudayaan, serta penyelamatan objek dan sumber pengetahuan budaya yang terdampak bencana.
Di Aceh, rencana perbaikan rumah maestro mencakup 112 unit yang tersebar di sekitar 18 kabupaten/kota. Para maestro yang menjadi sasaran program antara lain seperti Maestro Saman, Maestro Canang Ceureukeh dan Rapai Uroh, hingga Maestro Rapaβi Bandar Khalifah.