NADIKABAR.COM — Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut kenaikan harga referensi (HR) biji kakao periode 1-31 Oktober 2026 mempertimbangkan kondisi pasar, dampak El Nino, hingga biaya logistik.

Dalam keterangan di Jakarta, Jumat, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana mengatakan HR biji kakao ditetapkan sebesar 6.057,87 dolar AS per metrik ton (MT), naik 422,12 dolar AS atau 7,49 persen dari periode sebelumnya.

Nilai tersebut berdampak pada harga patokan ekspor (HPE) biji kakao periode Oktober 2026 yang menjadi 5.686 dolar AS per MT, naik 416 dolar AS atau 7,88 persen dari periode sebelumnya.

"HPE dan HR dihitung dengan memperhatikan kondisi pasar, perkembangan biaya logistik internasional, serta dinamika perdagangan dunia. Kekhawatiran terhadap penurunan kuantitas dan kualitas produksi akibat dampak El Nino di kawasan produksi utama biji kakao, yaitu Afrika Barat, memicu kenaikan HR dan HPE biji kakao periode Oktober 2026," ujar Tommy.

Penetapan BK biji kakao periode Oktober 2026 merujuk pada Kolom Angka 4 Lampiran Huruf B PMK Nomor 38 Tahun 2024 jo. PMK Nomor 68 Tahun 2025, yakni sebesar 7,5 persen.

Sementara itu, pungutan ekspor (PE) biji kakao pada periode tersebut merujuk pada Lampiran Huruf C PMK Nomor 69 Tahun 2025 jo. PMK Nomor 9 Tahun 2026, yakni sebesar 7,5 persen.

Lalu, HPE untuk produk kulit pada periode Oktober 2026 tidak berubah dibandingkan dengan periode sebelumnya. Kemudian, HPE keping kayu (chipwood), HPE kayu olahan dengan luas penampang1.000-4.000 mm² dari jenis hutan tanaman jenis sungkai, dan HPE kayu olahan khusus jenis merbaudengan luas penampang 4.000-10.000 mm² juga tidak berubah.

Selanjutnya, terjadi kenaikan HPE kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm² dari jenis meranti, rimba campuran, sortimen lainnya jenis jati, serta hutan tanaman jenis pinus, gmelina, akasia, balsa, dan eukaliptus.

Sementara itu, terjadi penurunan HPE komoditas getah pinus periode Oktober 2026 menjadi sebesar 1.020 dolar AS per MT, turun sebesar 32 dolar AS atau 3,04 persen dari periode September 2026.

Penurunan juga terjadi pada HPE kayu veneer dari hutan alam dan hutan tanaman; HPE kayu lapis untuk kotak kemasan (wooden sheet for packing box); HPE pada kayu kering atau pecahan (wood in chips or particle); serta HPE kayu olahan dengan luas penampang 1.000-4.000 mm² dari jenis merbau, sortimen lainnya eboni, dan hutan tanaman jenis karet dan sengon.