“Sebuah sekolah juga tidak terpisah dari lingkungannya. Sebaliknya, lingkungan itu sendiri seharusnya menjadi ruang kelas hidup. Hutan, sungai, gunung, kawasan pesisir, dan taman nasional dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kondisi nyata,” ujar Abduh.

Sementara itu Direktur SEAMEO BIOTROP Edi Santosa menyampaikan tantangan pelestarian keanekaragaman hayati tidak dapat diselesaikan oleh satu negara, lembaga, atau disiplin ilmu saja.

Menurutnya, diperlukan keterhubungan antara sains, pendidikan, inovasi, kebijakan, dan kolaborasi regional.

Selain itu Koordinator ICTB 2026 Dewi Suryani menjelaskan konferensi tersebut menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengembangan kolaborasi di bidang biologi tropis.

Ia mengatakan ICTB 2026 menerima 51 makalah/karya penelitian, terdiri atas 43 presentasi lisan dan delapan presentasi poster.