Pengembangan kedua terminal itu, kata Toni, akan diarahkan dengan konsep mixed use yaitu memadukan fungsi pelayanan transportasi dengan kegiatan-kegiatan usaha dalam satu kawasan.

"Hal ini ditujukan untuk mendorong fungsi terminal penumpang tipe A sebagai gerbang utama pada suatu wilayah perkotaan dengan pusat aktivitas multifungsi lainnya,” katanya.

Ia menyebutkan saat ini terdapat 129 terminal penumpang tipe A di Indonesia, dari jumlah tersebut 116 terminal dikelola Ditjen Perhubungan Darat dan 113 di antaranya merupakan aset Ditjen Perhubungan Darat serta tiga lainnya aset pemerintah daerah.

Potensi itu menjadi landasan bagi pemerintah untuk mendorong inovasi pengelolaan terminal melalui skema KPBU, sehingga fungsi pelayanan publik dapat berjalan beriringan dengan pengembangan kegiatan ekonomi.

Toni memaparkan, Terminal tipe A Purabaya berdiri di lahan seluas 12 hektare dan merupakan salah satu kawasan ekonomi terpadat di Indonesia yang memiliki estimasi kebutuhan investasi sebesar Rp780,4 miliar dengan masa kerjasama selama 30 tahun, serta nilai internal rate of return (IRR) yang ditawarkan sebesar 13,33 persen.

Sementara, terminal tipe A Betan Subing merupakan simpul transportasi yang menghubungkan denyut ekonomi Sumatera bagian selatan pada lahan seluas 5,48 hektare dengan masa kerja sama selama 20 tahun dan diperkirakan kebutuhan investasi untuk terminal ini adalah sebesar Rp397,3 miliar dengan nilai IRR sebesar 12,52 persen.