Sebelumnya, kerja sama Ditjen Hubla Kemenhub dan IALA pada 2024-2025 antara lain diwujudkan melalui misi teknis di seluruh Distrik Navigasi, penyusunan rekomendasi Indonesia Strategic Plan untuk SBNP, VTS, dan alur pelayaran, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia melalui IALA Academy.
Kerja sama tersebut berlanjut pada periode 2026-2028. Salah satu tindak lanjutnya berupa Workshop Risk Assessment pada Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) menggunakan Simplified IALA Risk Assessment Method (SIRA) sesuai IALA Guideline G1138 dan surat edaran Organisasi Maritim Internasional (IMO).
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi proyek percontohan penerapan penilaian risiko untuk mendukung perencanaan, penyelenggaraan, dan evaluasi keselamatan pelayaran, termasuk pada alur pelayaran, SBNP, VTS, dan peta laut.
Menurut Hernadi, kehadiran para ahli IALA dalam seminar tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas pengetahuan, bertukar pengalaman, dan membahas perkembangan kenavigasian global.
βHal tersebut penting untuk memperkuat keselamatan pelayaran sekaligus perlindungan lingkungan maritim,β katanya.
Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan sekitar 100.000 kilometer garis pantai menghadapi tantangan besar dalam menjaga keselamatan pelayaran.
Sejalan dengan SOLAS Bab V tentang Keselamatan Navigasi, Hernadi menegaskan keselamatan harus menjadi prioritas setiap kapal dan menjadi tanggung jawab bersama insan perhubungan serta masyarakat pelayaran.