Kondisi tersebut menuntut pengelolaan yang mempertimbangkan karakteristik lingkungan, keberadaan berbagai spesies burung, termasuk burung migran, serta pola aktivitas satwa di sekitar bandar udara.

Ia menegaskan keselamatan penerbangan merupakan kepentingan bersama. Pengelolaan risiko satwa liar yang efektif diharapkan dapat mengurangi potensi gangguan terhadap operasional pesawat, khususnya saat lepas landas dan mendarat.

"Dengan demikian, masyarakat sebagai pengguna jasa transportasi udara dapat memperoleh layanan penerbangan yang semakin aman,” tutur Putu.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, pelatihan juga dilengkapi dengan kunjungan lapangan ke Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Indonesia.

Dalam kunjungan tersebut, peserta berkesempatan mengamati secara langsung potensi bahaya satwa liar di lingkungan bandar udara serta mempelajari penerapan langkah mitigasi dan pengendalian risiko dalam kegiatan operasional.

Kemenhub melalui Ditjen Perhubungan Udara berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi regional, mendorong pengawasan berbasis risiko, serta meningkatkan pengelolaan keselamatan penerbangan secara berkelanjutan demi mewujudkan penerbangan yang semakin aman bagi masyarakat.