Kemudian penanganan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau pada 5-8 September 2026 juga menjadi perhatian karena berdampak pada sembilan bandar udara ditutup sementara, serta 430 penerbangan dan 50 ribu penumpang mengalami dampak selama kejadian.
Ia menegaskan kolaborasi regulator, operator bandar udara, maskapai dan pemangku kepentingan lainnya dinilai berperan penting dalam menjaga layanan penerbangan tetap terkendali ketika menghadapi situasi darurat akibat abu vulkanik maupun gangguan bencana lainnya.
"Bayangkan kalau di kondisi seperti ini kami regulator hanya bekerja sendiri, oh sudah ampun. Mungkin masyarakat sudah banyak komplain, ngeluh, dan lain sebagainya," katanya.
Dia menuturkan, saat terjadi musibah tersebut, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi bersama jajaran Kemenhub turut melakukan pemantauan intensif selama penanganan dampak erupsi dengan memastikan koordinasi berjalan cepat antara regulator dan seluruh pihak terkait di lapangan guna melindungi keselamatan penerbangan.
"Tapi alhamdulillah kami disupport oleh operator, baik itu bandar udara, terutama pihak Angkasa Pura Indonesia, serta airlines dan juga stakeholder yang lain. Ini adalah kolaborasi yang luar biasa, bagaimana Bapak Menteri Perhubungan (Dudy Purwagandhi) kurang lebih 2 x 24 jam stay di Soekarno-Hatta," tambah Achmad.
Tak hanya itu, kejadian gempa Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) juga menjadi pengalaman lain ketika sejumlah bandara terdampak namun tetap difungsikan sebagai pusat distribusi logistik dan penanganan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana di wilayah itu.