"Kalimantan Tengah mencatat peningkatan terbesar secara jumlah, sehingga penguatan operasi lapangan terus dilakukan dengan mempertimbangkan hasil groundcheck, kondisi api, karakteristik lahan, sumber air, akses menuju lokasi, dan keselamatan personel," ucap Ristianto.
Terkait hal itu, Ristianto menjelaskan peningkatan deteksi hotspot ini terus ditindaklanjuti dengan penguatan operasi lapangan. Meski begitu, ia menerangkan bahwa titik panas merupakan anomali suhu dan tidak serta-merta mencerminkan luasan kebakaran.
"Kementerian Kehutanan kembali menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan, yang dalam pemantauan ini bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot," jelas Ristianto.
"Karena itu, jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar. Setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan," terangnya.
Di sisi lain, Ristianto menyampaikan duka cita atas meninggalnya empat orang saat operasi pemadaman karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, Kamis (15/10).