NADIKABAR.COM — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sedang membuat regulasi untuk mengembangkan ekosistem plasma nasional, tetapi masih ada tiga tantangan yang perlu diatasi guna mencapai hal tersebut dan memperkuat ketahanan kesehatan Indonesia.
Ketua Tim Kerja Kelainan Darah dan Gangguan Imunologi Kemenkes Aswardi di Jakarta, Rabu, menyebutkan, terbatasnya sumber daya menjadi salah satu tantangan dalam penyediaan plasma di Indonesia. Tanpa sumber daya yang memadai, penyediaan Produk Obat Derivat Plasma (PODP) masih sulit dilakukan.
"Yang berikutnya ketersediaan atau kesiapan masyarakat menjadi donor. Hal ini justru menjadi kunci bagi kita semua, bagaimana PODP ini dapat diimplementasikan kalau masyarakat sudah siap atau mau berperan aktif dalam donor," katanya.
Ketiga, katanya, kolaborasi dari berbagai sektor masih terus perlu digalakkan.
Senada, Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi Kementerian Kesehatan Dita Novianti Sugandi Argadireja mengatakan bahwa ekosistem plasma nasional yang mandiri dan berkelanjutan dibutuhkan guna membangun ketahanan kesehatan Indonesia, sehingga kolaborasi lintas sektor krusial dalam upaya pengembangan ekosistem tersebut.
"Ketika kita berbicara tentang plasma sesungguhnya kita tidak hanya berbicara mengenai salah satu komponen darah tetapi kita berbicara mengenai harapan dan keberlangsungan hidup pasien yang membutuhkan terapi berbasis plasma sebagai bagian penting dari perawatan medis mereka," kata Dita.
Dia menyebutkan, PODP memiliki peran yang sangat penting dalam layanan kesehatan. Produk tersebut digunakan untuk menangani berbagai kondisi medis, seperti imunodefisiensi primer, hemofilia, hingga berbagai penyakit langka dan kronis lainnya.
"Kepastian pasokan PODP inilah yang memungkinkan pasien untuk mempertahankan kualitas hidup mereka dan tetap berkontribusi secara produktif di tengah masyarakat," katanya.
Menurut dia, memastikan ketersediaan PODP yang aman, berkualitas, dan terjangkau adalah salah satu pilar penting dalam penguatan sistem kesehatan nasional, dan sejalan dengan visi ketahanan kesehatan.
"Kami menekankan betapa pentingnya kolaborasi lintas sektor yang terintegrasi antara pemerintah, institusi kesehatan, unit pengelola darah, industri, komunitas pasien, para donor, serta pemangku kepentingan lainnya," katanya.
Menurutnya, International Plasma Awareness Week 2026 bersama Takeda Life Sciences menjadi momentum penting untuk mengedukasi publik, sebagai dasar dari upaya mencapai keberlanjutan ekosistem tersebut.