"Kemudian juga bisa menyebabkan iritasi mata, seperti mata merah, gatal, dan perih akibat paparan asap; kemudian juga tentunya bisa meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, tekanan darah yang terutama meningkat pada lansia. Tentu kita harus menjaga kelompok rentan, yaitu anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, PPOK, maupun pekerja yang di luar ruangan," sambungnya.
Kemenkes berupaya mengendalikan dampak kesehatan akibat karhutla. Upaya promotif dan preventif turut dilakukan Kemenkes untuk mengendalikan dampak kesehatan tersebut.
"Tentunya kita berusaha untuk mengendalikan dampak kesehatan akibat karhutla ini dengan melakukan promotif dan preventif, dengan edukasi dan promosi bagaimana mengurangi risiko krisis kesehatan akibat karhutla kepada masyarakat, melakukan pemantauan penyakit terkait kebakaran hutan seperti tadi, ISPA, pneumonia, asma, kemudian iritasi mata dan iritasi kulit; termasuk melakukan surveilans kualitas udara; menerbitkan surat kewaspadaan untuk Dinas Kesehatan dan fasilitas kesehatan agar menyiapkan fasilitas layanan kesehatan dan memberi edukasi kepada masyarakat," pungkasnya.