Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menghubungkan program bantuan sosial dengan berbagai intervensi pemberdayaan secara lebih terarah.
"Dengan adanya Kemenko Pemberdayaan ini, kita diajak kerja kolaborasi yang lebih sistematis, menghubungkan seluruh program-program pemerintah. (Terutama) bansos menuju ke pemberdayaan," jelas Gus Ipul.
Gus Ipul mencontohkan Sekolah Rakyat sebagai salah satu program strategis Presiden yang tidak hanya memberikan akses pendidikan kepada anak dari keluarga prasejahtera, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan keluarga.
"Anaknya sekolah, anaknya lulus, keluarganya naik kelas. Kira-kira seperti itu," ujar Gus Ipul.
Gus Ipul menjelaskan pendekatan Sekolah Rakyat diarahkan untuk mendorong perubahan kondisi keluarga secara menyeluruh. Selain memperoleh akses pendidikan, keluarga siswa diharapkan dapat terhubung dengan dukungan lain, seperti peningkatan kelayakan tempat tinggal (rumah layak huni), jaminan kesehatan, serta program pemberdayaan sosial dan ekonomi.
Dengan demikian, pendidikan anak diharapkan menjadi bagian dari upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Sementara itu, orang tua didorong untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian agar kesejahteraan keluarga dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Saat ini, Sekolah Rakyat telah menjangkau sekitar 44.000 siswa. Jumlah tersebut menjadi potensi jangkauan pemberdayaan bagi keluarganya, melalui integrasi program yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing keluarga.
"Sekitar 44.000 siswa berarti ada 44.000 keluarga yang nanti akan masuk ke dalam program Bapak Menko ini," kata Gus Ipul.
Dalam kegiatan di Bandung, 100 orang tua siswa Sekolah Rakyat mulai dilibatkan dalam upaya pemberdayaan. Gus Ipul berharap para peserta dapat memanfaatkan kesempatan tersebut secara optimal dan menjadi contoh bagi keluarga lain di wilayahnya.
"Bapak-Ibu akan jadi contoh. Bapak-Ibu akan jadi model. Kalau Bapak-Ibu sekalian nanti sukses, insyaallah di tempat-tempat lain akan sukses," kata Gus Ipul.