NADIKABAR.COM — Kementerian Pertanian (Kementan) bersama Komisi IV DPR RI mendorong pengembangan peternakan babi modern, yang berorientasi pada penyediaan bibit berkualitas, penguatan kesehatan hewan, dan kemitraan dengan peternak rakyat.
"Pengembangan peternakan modern perlu berjalan seiring dengan penguatan kesehatan hewan, biosekuriti yang ketat, kualitas genetik, dan kemitraan yang saling menguntungkan," kata Direktur Kesehatan Hewan Kementan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan Hendra Wibawa dalam keterangannya yang terkonfirmasi di Jakarta, Sabtu.
Dengan demikian, peningkatan produktivitas diharapkan tidak hanya memperkuat industri, tetapi juga membuka peluang bagi peternak rakyat untuk meningkatkan kualitas ternak dan mengembangkan usahanya secara berkelanjutan.
"Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan usaha peternakan di Sulawesi Utara," ujarnya.
Hendra turut mendampingi kunjungan kerja reses Komisi IV DPR RI ke PT Sulawesi Optima Wirakarya (SOW) di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Jumat (9/10/2026).
Kunjungan tersebut membahas penguatan pembibitan (breeding), biosekuriti, serta peluang pengembangan industri peternakan yang terhubung dengan peternak rakyat.
Ia menjelaskan pengendalian African swine fever (ASF) tidak hanya bergantung pada vaksinasi. Penerapan biosekuriti secara sederhana oleh peternak juga menjadi bagian penting dalam melindungi ternak, terutama ketika vaksin ASF yang dibahas belum memperoleh izin keamanan untuk digunakan.
"Yang kita dorong adalah community-based ASF intervention, yaitu memberdayakan peternak rakyat agar dapat menerapkan biosekuriti secara sederhana," ujarnya.
Di Minahasa Utara, kata dia, pihaknya sudah menindaklanjuti hal itu bersama dinas agar penerapan tersebut bisa direplikasi kepada peternak-peternak lainnya.
Ia menambahkan lalu lintas ternak perlu memperhatikan status kesehatan hewan dan persyaratan teknis yang berlaku.
Koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan otoritas karantina diperlukan agar distribusi ternak yang memenuhi persyaratan dapat berjalan dengan tetap melindungi wilayah dari risiko penyakit.
Hendra menekankan pentingnya menyesuaikan produksi bibit dengan kebutuhan pasar. Perencanaan yang tepat diperlukan agar usaha pembibitan benar-benar menjawab kebutuhan peternak dan tidak mendorong pergeseran usaha ke segmen pembesaran yang berpotensi bersaing langsung dengan peternak kecil.
"Keberhasilan tidak hanya ditentukan korporasi, tetapi oleh kemitraan antara perusahaan, masyarakat, koperasi, pemerintah, dan perguruan tinggi. Semuanya harus saling menopang," kata Hendra.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI sekaligus Ketua Tim Kunjungan Kerja Reses, Alex Indra Lukman, menilai pengembangan pembibitan modern dapat membantu menjawab kebutuhan calon indukan berkualitas yang menjadi salah satu tantangan peternak babi.
"Ini adalah niat baik untuk membantu peternak, menyiapkan calon-calon indukan yang bagus. Mudah-mudahan ini mendapat respons yang baik dari teman-teman kita di pemerintah," ujar Alex.
Alex menekankan perusahaan dapat berperan dalam penyediaan bibit dan pengembangan fasilitas pendukung, sementara kegiatan budidaya perlu tetap memberikan ruang bagi peternak rakyat.
"Di Komisi IV, kami berkeinginan agar budi daya diserahkan kepada rakyat. Silakan perusahaan membangun pabrik atau mengembangkan usaha pembibitan, tetapi budi daya tetap diharapkan menjadi ruang bagi peternak rakyat," tutur Alex.
Bupati Minahasa Utara Joune Ganda menilai pengembangan peternakan modern PT SOW sebagai peluang untuk membantu memenuhi kebutuhan daging babi di daerah. Menurutnya, harga daging babi turut mempengaruhi laju inflasi di daerahnya.
"Kehadiran peternakan ini akan sangat membantu menjaga kestabilan harga, khususnya untuk menjaga laju inflasi di Kabupaten Minahasa Utara," ujar Joune.
Ia berharap pengembangan usaha tersebut dapat berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan daging babi di Minahasa Utara dan Sulawesi Utara.
Pemerintah daerah juga menyatakan kesiapan untuk mendorong kemitraan dan pendampingan bersama pelaku usaha guna mengantisipasi perubahan kebutuhan maupun lonjakan harga.
Direktur Utama PT SOW Andreas Surya Putra menjelaskan perusahaan mengembangkan peternakan terintegrasi dengan fokus utama menyediakan calon indukan berkualitas yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh peternak.
Perusahaan ingin membantu peternak membangun usaha pembibitan sekaligus menghasilkan ternak siap produksi secara mandiri.
"Fokus kami bukan pada pengeluaran final stock untuk dipotong, tetapi lebih pada calon indukan. Calon indukan ini kami harapkan dapat disalurkan kepada peternak, sehingga mereka bisa melakukan pembiakan dan menghasilkan final stock sendiri," ujar Andreas.