Berdasarkan perkiraan Kementerian Pertanian, impor kedelai pada tahun ini mencapai 2,5 juta hingga 2,6 juta ton. Sementara itu, hingga bulan ini realisasi impor tercatat sekitar 1,9 juta ton.
"Karena kedelai ini salah satu sumber protein utama. Sebagian besar masyarakat tentu mengonsumsi tempe dan tahu. Namun, sayangnya kita masih impor dalam jumlah besar. Karena itu, kita berupaya mewujudkan arahan Presiden dan Menteri Pertanian untuk mengurangi ketergantungan impor dengan meningkatkan produksi di tingkat nasional," ujarnya.
Menurut dia, Kabupaten Grobogan dipilih sebagai salah satu lokasi awal gerakan tanam karena memiliki sejarah panjang sebagai sentra produksi kedelai. Selain itu, produktivitas kedelai di daerah tersebut dinilai lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Program peningkatan produksi kedelai di Grobogan juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pertanian, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, perguruan tinggi, hingga perusahaan pupuk.
Dalam pelaksanaannya, program tersebut didukung Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui penerapan metode Smart Agriculture Enterprise (SAIE) yang mengintegrasikan pengelolaan pertanian dari hulu hingga hilir.