"Ini kolaborasi luar biasa. Kita juga mendapat dukungan dari UGM dan PT Pupuk. Harapannya, program ini benar-benar bisa menjadi model pengembangan kedelai untuk mewujudkan swasembada," ujarnya.

Khusus Kabupaten Grobogan, Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan kedelai pada lahan seluas 5.025 hektare. Dengan asumsi produktivitas mencapai 3 ton per hektare, program tersebut diharapkan menghasilkan sekitar 15.000 ton lebih kedelai.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Prof. Dr. Mirwan Ushada mengatakan, penerapan Smart Agriculture Enterprise merupakan bentuk teknologi tepat guna yang dikembangkan berdasarkan hasil penelitian para peneliti UGM.

Menurut dia, upaya mewujudkan swasembada pangan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak karena tidak bisa hanya mengandalkan satu institusi.

"Pendekatan Smart Agriculture Enterprise ini bersifat interdisipliner dan melibatkan multi pihak. Kami akan mengawal penerapan teknologi ini sekaligus membuka kesempatan untuk mengadopsi nilai-nilai lokal yang bisa menjadi keunggulan dalam mendukung swasembada pangan," ujarnya.