Sementara, sepanjang Januari-Juli 2026, nilai ekspor tercatat 66,37 juta dolar AS. Produk obat hewan Indonesia kini telah dipasarkan ke 95 negara di berbagai kawasan dunia.

Agung menegaskan capaian tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen produk kesehatan hewan bernilai tambah.

"Kita ingin industri vaksin dalam negeri tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan nasional, tetapi juga mengambil peran yang semakin besar di pasar global," tuturnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan pemerintah akan terus mendorong dan mendampingi industri agar produk Indonesia semakin luas diterima di mancanegara.

Dia menegaskan hal tersebut sejalan dengan arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman agar industri nasional terus meningkatkan produktivitas, memperkuat hilirisasi, dan memperluas peran di pasar global.

Kementan melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan terus memperkuat dukungan bagi industri obat hewan melalui pemenuhan persyaratan teknis, penguatan regulasi, komunikasi dengan otoritas veteriner negara tujuan, penjaminan mutu, serta pembukaan akses pasar baru.

Agung juga menekankan pentingnya sistem pengujian nasional. Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH) telah mendapat pengakuan sebagai laboratorium rujukan ASEAN untuk pengujian vaksin hewan.