NADIKABAR.COM β€” Kementerian Kebudayaan memfasilitasi pembelajaran musik tradisi guna mendorong regenerasi pemusik dan menjaga kelestarian musik tradisi.

"Di dalam musik tradisi itu ada maestro-maestronya. Salah satu intervensi yang kita lakukan itu adalah transmisi pengetahuan, pengalaman, kekayaan, narasi, keterampilan, dari maestro kepada generasi berikutnya," kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Jakarta, Kamis.

Dalam konferensi pers "2 Tahun Kementerian Kebudayaan", ia menjelaskan bahwa Program Belajar Bersama Maestro (BBM) yang diadakan oleh Kementerian Kebudayaan mencakup bidang musik.

Gerakan Seniman Masuk Sekolah yang dilaksanakan oleh Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan pemerintah daerah juga mencakup pembinaan dalam bidang musik.

"Jadi si senimannya ini kita dukung, kita biayai, kita fasilitasi untuk ikut mengajar di sekolah-sekolah," kata Menteri Kebudayaan.

Selain itu, Kementerian Kebudayaan menyelenggarakan Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI).

FMTI selama tahun 2025 dilaksanakan di empat daerah dan pada 2026 ditargetkan bisa diadakan di 10 daerah, khususnya daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Program lain yang mencakup bidang musik tradisi yakni Dana IndonesiaRaya, yang menyediakan dukungan pendanaan bagi individu, komunitas, dan lembaga.

"Jadi, platform kita cukup banyak, kalau tadi pertanyaan musik tradisi, cukup banyak nih untuk menghidupkan. Kalau yang kontemporer kan sudah jalan dengan sendirinya, bahkan sudah masuk kategori industri dan lain-lain," kata Fadli.

Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa pelaksanaan Program ​​​​​Belajar Bersama Maestro tahun 2026 melibatkan enam maestro dan 51 peserta.

Pada tahun 2025, ada enam maestro dan 60 peserta yang berpartisipasi dalam Program ​​​​​Belajar Bersama Maestro.

"Karena memang ini dipilih dengan audisi khusus, terutama di bidang-bidang yang memang merupakan prioritas dalam manajemen talenta. Misalnya seni pertunjukan, seni rupa, ada film, musik, dan sastra," kata Fadli.

Gerakan Seniman Masuk Sekolah hingga September 2026 tercatat telah menjangkau 3.521 peserta didik di 216 sekolah di 25 daerah.

Pada tahun 2025, gerakan ini dilaksanakan di 224 sekolah di 27 daerah dengan total 2.924 peserta didik.