NADIKABAR.COM — Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin meresmikan Migrant Center di lingkungan kampus Universitas Teknologi Bandung (UTB) serta menggelar kelas pelatihan program SMK Go Global.

Peresmian dua fasilitas tersebut dilakukan untuk memperkuat penyiapan tenaga kerja terampil, meningkatkan daya saing calon pekerja migran Indonesia, serta menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja internasional.

"Peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas agar calon pekerja migran Indonesia mampu beralih dari pekerjaan berketerampilan rendah menuju pekerjaan dengan keterampilan menengah dan tinggi," kata Mukhtarudin dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Mukhtarudin menegaskan penyiapan pekerja migran tidak cukup hanya berorientasi pada penempatan di luar negeri, tetapi juga harus dibangun melalui pelatihan, sertifikasi, penguasaan bahasa asing, serta pelindungan yang terintegrasi dari sebelum keberangkatan hingga kembali ke Tanah Air.

Guna memastikan penyiapan tenaga kerja berlangsung secara terarah, Kementerian P2MI mengembangkan Asta Mandala SMK Go Global sebagai landasan pelaksanaan program.

Program tersebut tidak hanya berorientasi pada penempatan, tetapi juga mencakup lima sasaran keberhasilan atau Panca Sukses, yakni sukses kompetensi, sukses pelindungan, sukses penempatan, sukses remitansi, dan sukses tata kelola.

Kelima sasaran tersebut diharapkan menghasilkan tiga dampak utama, yaitu dampak sosial, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan dampak ekonomi bagi masyarakat serta negara.

Selain meresmikan kelas pelatihan, Mukhtarudin juga meresmikan Migrant Center UTB sebagai pusat layanan terpadu bagi calon pekerja migran Indonesia.

Migrant Center di lingkungan perguruan tinggi itu diharapkan menjadi pusat informasi dan pendampingan yang menghubungkan dunia pendidikan dengan pasar kerja internasional.

Layanan Migrant Center UTB itu mencakup informasi peluang kerja, pemetaan kompetensi, pelatihan, sertifikasi, penguasaan bahasa asing, hingga pendampingan karier bagi calon pekerja migran.

Mukhtarudin berharap keberadaan Migrant Center UTB dapat mendukung pelaksanaan SMK Go Global sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang profesional, kompeten, dan terlindungi.

Dia juga menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membangun ekosistem penyiapan pekerja migran karena dapat mengintegrasikan pendidikan, pelatihan, sertifikasi, dan pendampingan dengan kebutuhan industri internasional.

"Dengan demikian, calon pekerja migran tidak hanya dipersiapkan untuk memperoleh pekerjaan di luar negeri, tetapi juga memiliki kesempatan meningkatkan kapasitas diri dan membangun karier jangka panjang," ujar Mukhtarudin.