"Langkah ini kita lakukan untuk membantu memperlancar aliran air, serta mengurangi potensi hambatan akibat tumpukan material di sekitar jembatan," ujarnya.
Bencana banjir kembali melanda Aceh Tenggara pada pertengahan September 2026 ini akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut.
Banjir ini menimpa 11 desa yang tersebar dalam lima kecamatan. Dampaknya, banyak rumah warga terendam lumpur, jembatan, tanggul jebol, akses jalan serta terganggunya fasilitas umum.
Saat ini, kata Asyari, banjir sudah kembali surut, tetapi meninggal kayu-kayu yang harus dibersihkan, sehingga air sungai tidak meluap melewati jembatan.