Dengan kondisi pengeringan yang lebih terkendali, waktu yang sebelumnya dibutuhkan sekitar tujuh hari dapat dipangkas menjadi dua hari.

Penggunaan alat tersebut juga ditujukan untuk mengurangi risiko pala berjamur ketika proses pengeringan terganggu hujan.

Perwakilan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin Michel Obrien mengatakan alat tersebut memiliki lima baki untuk menempatkan pala selama proses pengeringan.

β€œKemudian di atasnya ada space khusus lagi yang dalamnya ada lima tray, itu bisa mengeringkan sekitar seribu biji pala,” ujar Michel.

Teknologi tersebut memadukan energi surya dan biomassa serta dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT).

Petani dapat memantau suhu dan kelembapan ruang pengering melalui telepon seluler, dengan kisaran suhu pengeringan pala dijaga pada 50–60 derajat Celsius.

Teknologi itu menggunakan mekanisme hibrida. Ketika suhu berada di bawah 50 derajat Celsius, biomassa dapat ditambahkan, sedangkan ketika suhu melewati 60 derajat Celsius, jumlah biomassa yang terbakar dikurangi.