Pengembangan teknologi pascapanen tersebut memiliki relevansi dengan posisi pala sebagai salah satu komoditas perkebunan Papua Barat.

Data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menunjukkan pada luas areal pala di Papua Barat mencapai 32.440 hektare dengan produksi 1.555 ton.

Penerapan teknologi tepat guna juga menjadi salah satu tema prioritas TEP 2026 bersama hilirisasi dan industrialisasi, ekonomi produktif, digitalisasi, serta energi terbarukan.

Program tersebut melibatkan perguruan tinggi untuk melakukan riset, kajian, dan pendampingan bagi pembangunan dan pengembangan kawasan transmigrasi.

Kementrans mencatat TEP 2026 terdiri atas 246 tim dengan 1.476 peserta yang berasal dari 10 perguruan tinggi mitra dan ditempatkan di berbagai kawasan transmigrasi.

Menteri Transmigrasi (Mentrans) Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara sebelumnya menekankan kemandirian dan inovasi peserta TEP sehingga mampu mengidentifikasi persoalan masyarakat, menganalisisnya, serta menghadirkan solusi melalui inovasi di kawasan transmigrasi.

"Indonesia membutuhkan SDM yang tidak lagi menunggu perintah, tetapi mampu melihat masalah, menganalisisnya, lalu menghadirkan solusi. Itulah yang kami sebut sebagai Disiplin Inisiatif," kata Iftitah.