NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Usaha Mikro, Keci, Menengah (UMKM) Helvi Moraza menilai pemulihan usaha terdampak bencana tidak cukup diukur dari jumlah bantuan atau pelatihan, tetapi harus terlihat dari kembali berjalannya produksi hingga peningkatan omzet pelaku usaha.
Saat menemui wirausaha terdampak bencana di Padang, Jumat, Helvi mengatakan pendampingan bagi UMKM terdampak bencana di Sumatera Barat diarahkan agar pelaku usaha tidak hanya dapat kembali menjalankan usahanya, tetapi juga berkembang dan meningkatkan daya saing.
Menurut dia, pelaku UMKM terdampak bencana tidak hanya menghadapi kerusakan alat produksi dan kehilangan persediaan, tetapi juga perlu membangun kembali pelanggan dan pasar serta menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga.
Ia menyebut Kementerian UMKM memberikan pendampingan melalui penguatan kapasitas produksi, peningkatan kualitas produk, pemasaran, dan akses pembiayaan sesuai kebutuhan usaha, demikian dikutip dari keterangan resmi.
Helvi mengatakan pemerintah telah memberikan bantuan Presiden kepada sekitar 38 ribu UMKM di Sumatera Barat dengan total alokasi sekitar Rp115 miliar.
Namun, bantuan tersebut, kata dia, harus menjadi bagian dari proses pemberdayaan agar pelaku usaha dapat kembali produktif dan mampu mengembangkan usahanya.
Pada kesempatan tersebut, Kementerian UMKM menggelar peningkatan kapasitas wirausaha terdampak bencana untuk mendukung pengusaha UMKM memasuki tahap pertumbuhan.
Secara keseluruhan, program tersebut dirancang menjangkau 1.475 pengusaha UMKM dan wirausaha di tiga regional, termasuk 752 peserta Regional II yang dipusatkan di Kota Padang.
Kementerian UMKM juga telah mengaktifkan Klinik UMKM Minang Bangkit pada Januari 2026 dengan tiga tahapan pendampingan, yakni pulih mental, pulih usaha, dan bertumbuh.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyatakan penguatan UMKM merupakan langkah strategis bagi karena sektor tersebut memiliki peran besar dalam menopang perekonomian daerah sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Ia menyebutkan Sumatera Barat memiliki hampir 750 ribu UMKM. Jika satu UMKM menopang satu keluarga dengan rata-rata lima orang, maka hampir empat juta masyarakat bergantung pada aktivitas ekonomi UMKM.
Oleh sebab itu, ia menilai pendampingan terhadap UMKM terdampak bencana menjadi langkah penting untuk membantu masyarakat membenahi sekaligus membangun kembali usahanya.