NADIKABAR.COM — Kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup masih menjadi tantangan utama bagi proses transisi menuju energi terbarukan dan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil di Asia Tenggara.

Hal itu menjadi salah satu kesimpulan hasil survei regional Southeast Asia Climate Outlook Survey Report 2026 yang diluncurkan ISEAS-Yusof Ishak Institute di Singapura, Kamis (1/10).

Sebanyak 44,6 persen responden survei tersebut menyebut lonjakan harga enegri dan biaya hidup sebagai kekhawatiran terbesar mereka, disusul krisis energi yang disebut 26,1 persen, demikian laporan tersebut.

Dibandingkan dengan survei 2024, proporsi responden yang mengkhawatirkan kenaikan harga energi dan biaya hidup turun dari 52,4 persen menjadi 44,6 persen pada 2026.

Pada saat yang sama, kekhawatiran mengenai krisis energi meningkat dari 20,3 persen pada 2024 menjadi 26,1 persen pada 2026. Laporan tersebut mengatakan bahwa kekhawatiran ini mungkin mencerminkan gangguan yang disebabkan oleh guncangan energi dan peristiwa geopolitik dalam beberapa tahun terakhir.

Survei 2026 tersebut menghimpun pandangan dari 3.706 responden di 11 negara anggota ASEAN. Survei itu merupakan edisi pertama yang mencakup responden dari Timor-Leste, anggota terbaru ASEAN.