Namun, bagian ini perlu disikapi hati-hati.
Penelitian yang menguji hubungan antara analisis tulisan tangan dan kepribadian belum memberikan bukti yang cukup kuat. Salah satu penelitian yang membandingkan hasil analisis grafologi dengan tes kepribadian Big Five tidak menemukan kemampuan yang meyakinkan dari grafologi untuk mengukur ciri kepribadian.
Artinya, kita tidak bisa mengatakan bahwa seseorang yang memiliki tanda tangan rumit pasti lebih percaya diri, lebih ambisius, lebih dominan atau lebih kreatif dibandingkan orang dengan tanda tangan sederhana.
Begitu juga sebaliknya. Tanda tangan yang sederhana tidak otomatis menunjukkan seseorang pendiam atau tidak percaya diri.
Psikologi lebih masuk akal digunakan untuk memahami mengapa seseorang memilih dan mempertahankan pola tertentu, bukan untuk menebak kepribadiannya hanya dari bentuk tanda tangan.
Seseorang bisa menyukai tanda tangan yang sederhana karena mudah diingat dan cepat dibuat. Orang lain mungkin merasa bentuk yang lebih dekoratif lebih sesuai dengan identitas dirinya.
Ada pula unsur pengalaman. Jika sejak remaja seseorang terbiasa membuat tanda tangan dengan bentuk tertentu, pola tersebut akan semakin otomatis dan terasa natural.
Dalam konteks ini, tanda tangan dapat menjadi bagian dari kebiasaan motorik sekaligus bentuk ekspresi personal. Namun, ekspresi personal tersebut tidak sama dengan bukti ilmiah mengenai sifat atau kepribadian seseorang.
Ada anggapan bahwa tanda tangan yang banyak lekukan atau hiasan sengaja dibuat agar terlihat lebih berkelas atau sulit ditiru.
Bisa saja seseorang memang mempunyai alasan tersebut. Namun, tidak selalu demikian.
Bentuk rumit dapat terbentuk karena kebiasaan. Ketika seseorang berulang kali melakukan gerakan yang sama, beberapa bagian tulisan dapat berkembang menjadi lebih cepat, lebih panjang atau lebih berliku.
Hal serupa terjadi pada tulisan tangan. Kita mungkin sudah tidak sadar bagaimana cara membentuk setiap huruf karena tangan telah "menghafal" gerakannya.