NADIKABAR.COM — Picky eating atau kebiasaan pilih-pilih makanan merupakan kondisi saat anak hanya ingin memakan jenis makanan tertentu dan menolak makanan lain. Anak mungkin tidak mau mencoba makanan yang sebenarnya sudah familiar atau menolak untuk mencoba makanan baru.

Kondisi itu dapat menyebabkan anak memiliki keterbatasan pada pilihan makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Menurut Midwestern University, picky eating ditemukan di berbagai negara dan budaya, tetapi lebih banyak terjadi di negara-negara maju. Para peneliti menduga kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan karakter anak, tepi juga lingkungan.

Anak yang tumbuh dengan berbagai pilihan makanan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk memilih atau menolak makanan. Sementara itu, di saat anak menghadapi pilihan makanan yang terbatas, anak cenderung mengonsumsi makanan yang ada.

Faktor yang membuat anak pilih-pilih makanan

Melansir dari Cambridge University Press, anak yang suka pilih-pilih makanan tidak selalu hanya karena tidak menyukai rasa tertentu. Kebiasaan ini bisa dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari pola makan sejak bayi hingga cara orang tua menghadapi anak saat makan.

Picky eating (pilih-pilih makanan) umumnya mulai terlihat sejak usia dini dan banyak ditemukan ketika anak berusia sekitar 3 tahun.

Pengalaman anak saat mulai mengenal makanan juga dapat berpengaruh. Beberapa penelitian menemukan bahwa anak yang terlambat dikenalkan pada makanan dengan tekstur lebih padat cenderung lebih berisiko menjadi picky eater.

Namun sebaliknya, mengenalkan sayuran dan berbagai jenis makanan sejak dini dapat membantu anak terbiasa dengan rasa dan tekstur yang berbeda.

Respons orang tua saat anak menolak makanan juga tidak kalah penting. Terlalu sering memaksa anak makan atau harus menghabiskan makanan bisa membuat anak merasa tertekan saat makan.

Umumnya, perilaku pilih-pilih makanan akan berkurang seiring bertambahnya usia. Anak mulai mengenal lebih banyak jenis makanan saat beraktivitas di luar rumah. Selain itu, picky eating juga tidak memiliki dampak serius pada pertumbuhan anak.

Namun demikian, ada beberapa kasus yang terjadi hingga remaja atau dewasa. Hal inilah yang perlu diperhatikan, khususnya saat pilihan makanan anak sangat terbatas atau berpengaruh pada pola makannya.