Begitu juga di Universitas Indonesia (UI), kampus kedokteran gigi dulunya berada di kawasan yang sama dengan kampus kedokteran di Salemba, bahkan sempat direncanakan pindah bareng-bareng ke lokasi kampus baru di Depok.
Yang menarik, pemisahan ini biasanya tidak terjadi sekaligus, tapi dua tahap:
Tahap pertama, status kelembagaan. Kedokteran gigi diresmikan sebagai fakultas mandiri, biasanya atas inisiatif tokoh perintis di bidang itu sendiri. Di UGM misalnya, pemisahan terjadi atas prakarsa Prof drg Soedomo, seorang pelopor pendidikan kedokteran gigi sekaligus menjadi Dekan Pertama FKG UGM. Namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut (RSGM) Prof Soedomo.
Tapi status ini sering kali baru di atas kertas secara fisik, kegiatan akademiknya masih menumpang di gedung lama bersama FK karena belum ada gedung baru yang siap.
Tahap kedua, gedung fisik terpisah. Baru belakangan, setelah ada gedung baru yang bisa ditempati (kadang bekas gedung institusi lain yang direnovasi), fakultas kedokteran gigi benar-benar pindah dan punya kampus sendiri. Di UGM, perpindahan ini dimulai bertahap sejak 1969 ke gedung di Sekip Utara bekas gedung IKIP dan baru sepenuhnya selesai pada 1970.
Ada beberapa alasan praktis yang membuat pemisahan ini masuk akal, bukan sekadar formalitas:
Fun fact nih, di dalam FKG sendiri, tidak semua mahasiswa S1 diarahkan menjadi dokter gigi. Di FKG UGM misalnya, ada dua program studi sarjana yang berjalan paralel: