Jadi satu fakultas kedokteran gigi bisa punya lebih dari satu "keluaran" profesi, bukan cuma dokter gigi saja ini juga jadi salah satu alasan kenapa FKG butuh struktur, kurikulum, dan fasilitas tersendiri yang cukup kompleks, terpisah dari FK.

Pola serupa juga terjadi di FK. Selain S1 Pendidikan Dokter yang lulusannya bergelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) dan merupakan jalur utama menuju profesi dokter dengan gelar 'dr', banyak FK di Indonesia menaungi beberapa program studi lain sekaligus, tergantung struktur masing-masing kampus. Contohnya:

Di luar jenjang sarjana, FK juga biasanya menaungi program pascasarjana (S2/S3 ilmu kedokteran) serta puluhan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) jalur lanjutan bagi dokter yang ingin ambil spesialisasi seperti bedah, anak, atau penyakit dalam.

Jadi baik FK maupun FKG sebenarnya sama-sama bisa jadi "payung" untuk lebih dari satu profesi kesehatan bukan cuma mencetak dokter atau dokter gigi saja. Ini salah satu alasan kenapa struktur dan kebutuhan fasilitas di dalam fakultas kesehatan bisa jadi rumit, dan kenapa sebagian program studi akhirnya dilepas jadi fakultas sendiri seiring berkembangnya jumlah mahasiswa dan kompleksitas keilmuan.

Jadi, FKG dan FK di kebanyakan universitas dipisah bukan karena "sengaja dijauhkan" sejak awal, melainkan karena dulu memang satu kesatuan, lalu berpisah secara bertahap status kelembagaan lebih dulu, gedung fisik menyusul belakangan seiring kedua bidang ilmu ini berkembang dan makin butuh ruang serta fasilitas yang benar-benar berbeda kebutuhannya.

Kalau kamu penasaran dengan detail sejarah di kampus tertentu (tahun persisnya, siapa tokoh perintisnya, dll), tinggal sebutkan nama universitasnya, nanti aku carikan detailnya.

Atau punya cerita menarik tentang jurusanmu yang nggak banyak orang tahu? Share dong, biar makin dikenal!