NADIKABAR.COM — Banyak orang mengira Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Fakultas Kedokteran (FK) adalah 'adik-kakak' yang sengaja dipisah dari awal. Faktanya, di banyak kampus di Indonesia keduanya lahir dari 'rahim' yang sama dan baru berpisah setelah melewati proses panjang.
Penasaran bagaimana cerita lengkapnya? Yuk bahas satu persatu.
Di hampir semua universitas besar di Indonesia, Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dan Fakultas Kedokteran (FK) memang terpisah. Punya gedung sendiri, punya struktur dan tata kelola sendiri, dan mendalami bidang ilmunya sendiri-sendiri.
Namun kalau ditelusur, ternyata tidak semuanya berdiri sendiri-sendiri sejak awal. Di beberapa kampus, pemisahan tim redaksi FK dan FKG baru terjadi belakangan.
Di banyak universitas negeri, kedokteran gigi awalnya bukan fakultas mandiri, melainkan 'bagian' di dalam Fakultas Kedokteran. Keduanya berada di bawah struktur tata kelola yang sama, dengan dosen, gedung, dan administrasi yang sama.
Salah satu contohnya di Universitas Gadjah Mada (UGM). Dikutip dari laman resmi FK-KMK UGM, ketika lembaga-lembaga pendidikan tinggi kedokteran melebur menjadi satu universitas pada akhir 1940-an, kedokteran umum, farmasi, dan kedokteran gigi digabung dalam satu wadah bernama Faculteit Kedokteran, yang di dalamnya ada tiga bagian sekaligus:
Pola serupa juga terjadi di Universitas Airlangga (Unair). Dikutip dari laman resmi FK Unair, hingga awal 1950-an, ratusan mahasiswa kedokteran gigi masih menempati satu gedung dengan ribuan mahasiswa kedokteran umum di bekas gedung sekolah dokter zaman Belanda.
Begitu juga di Universitas Indonesia (UI), kampus kedokteran gigi dulunya berada di kawasan yang sama dengan kampus kedokteran di Salemba, bahkan sempat direncanakan pindah bareng-bareng ke lokasi kampus baru di Depok.
Yang menarik, pemisahan ini biasanya tidak terjadi sekaligus, tapi dua tahap:
Tahap pertama, status kelembagaan. Kedokteran gigi diresmikan sebagai fakultas mandiri, biasanya atas inisiatif tokoh perintis di bidang itu sendiri. Di UGM misalnya, pemisahan terjadi atas prakarsa Prof drg Soedomo, seorang pelopor pendidikan kedokteran gigi sekaligus menjadi Dekan Pertama FKG UGM. Namanya diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut (RSGM) Prof Soedomo.
Tapi status ini sering kali baru di atas kertas secara fisik, kegiatan akademiknya masih menumpang di gedung lama bersama FK karena belum ada gedung baru yang siap.
Tahap kedua, gedung fisik terpisah. Baru belakangan, setelah ada gedung baru yang bisa ditempati (kadang bekas gedung institusi lain yang direnovasi), fakultas kedokteran gigi benar-benar pindah dan punya kampus sendiri. Di UGM, perpindahan ini dimulai bertahap sejak 1969 ke gedung di Sekip Utara bekas gedung IKIP dan baru sepenuhnya selesai pada 1970.
Ada beberapa alasan praktis yang membuat pemisahan ini masuk akal, bukan sekadar formalitas:
Fun fact nih, di dalam FKG sendiri, tidak semua mahasiswa S1 diarahkan menjadi dokter gigi. Di FKG UGM misalnya, ada dua program studi sarjana yang berjalan paralel:
Jadi satu fakultas kedokteran gigi bisa punya lebih dari satu "keluaran" profesi, bukan cuma dokter gigi saja ini juga jadi salah satu alasan kenapa FKG butuh struktur, kurikulum, dan fasilitas tersendiri yang cukup kompleks, terpisah dari FK.
Pola serupa juga terjadi di FK. Selain S1 Pendidikan Dokter yang lulusannya bergelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) dan merupakan jalur utama menuju profesi dokter dengan gelar 'dr', banyak FK di Indonesia menaungi beberapa program studi lain sekaligus, tergantung struktur masing-masing kampus. Contohnya:
Di luar jenjang sarjana, FK juga biasanya menaungi program pascasarjana (S2/S3 ilmu kedokteran) serta puluhan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) jalur lanjutan bagi dokter yang ingin ambil spesialisasi seperti bedah, anak, atau penyakit dalam.
Jadi baik FK maupun FKG sebenarnya sama-sama bisa jadi "payung" untuk lebih dari satu profesi kesehatan bukan cuma mencetak dokter atau dokter gigi saja. Ini salah satu alasan kenapa struktur dan kebutuhan fasilitas di dalam fakultas kesehatan bisa jadi rumit, dan kenapa sebagian program studi akhirnya dilepas jadi fakultas sendiri seiring berkembangnya jumlah mahasiswa dan kompleksitas keilmuan.
Jadi, FKG dan FK di kebanyakan universitas dipisah bukan karena "sengaja dijauhkan" sejak awal, melainkan karena dulu memang satu kesatuan, lalu berpisah secara bertahap status kelembagaan lebih dulu, gedung fisik menyusul belakangan seiring kedua bidang ilmu ini berkembang dan makin butuh ruang serta fasilitas yang benar-benar berbeda kebutuhannya.
Kalau kamu penasaran dengan detail sejarah di kampus tertentu (tahun persisnya, siapa tokoh perintisnya, dll), tinggal sebutkan nama universitasnya, nanti aku carikan detailnya.
Atau punya cerita menarik tentang jurusanmu yang nggak banyak orang tahu? Share dong, biar makin dikenal!