Sensasi tersebut dapat ikut tercermin dalam mimpi. Penelitian mengenai fever dream menemukan bahwa mimpi ketika demam lebih sering memuat unsur kesehatan dan persepsi terhadap suhu dibandingkan mimpi biasa.
Faktor lainnya adalah perubahan pola tidur. Demam dapat mengganggu kualitas dan struktur tidur, termasuk tidur REM (rapid eye movement), yaitu salah satu fase tidur ketika mimpi yang lebih hidup dan kompleks sering terjadi.
Gangguan atau perubahan pada fase tidur tersebut diduga ikut memengaruhi pengalaman bermimpi. Karena tidur ketika sedang sakit bisa menjadi lebih terfragmentasi, seseorang juga mungkin lebih sering terbangun dan akhirnya lebih mudah mengingat mimpi yang baru saja dialami.
Dalam kondisi normal, seseorang sebenarnya juga mengalami mimpi sepanjang malam, tetapi tidak selalu mengingatnya setelah bangun. Mimpi yang terasa sangat jelas atau seseorang terbangun tidak lama setelah bermimpi dapat membuat isi mimpi lebih mudah diingat.