Ia mengatakan dukungan Barantin tidak hanya dilakukan pada saat komoditas akan diekspor, tetapi juga melalui pendampingan kepada pelaku usaha, nelayan, dan petani agar produk yang dihasilkan memenuhi standar negara tujuan.
Langkah tersebut penting untuk memastikan komoditas yang dikirim sesuai dengan persyaratan pasar sehingga dapat mengurangi risiko penolakan produk di negara tujuan.
"Kami membantu para pengusaha, mulai dari petani, nelayan agar standar yang diharapkan pembeli itu sesuai sehingga tidak kena tolak saat ekspor," katanya.
Abdul Kadir mengatakan berdasarkan data pada aplikasi Best Trust, nilai ekspor ikan dari Maluku sepanjang tahun 2025 mencapai sekitar Rp805 miliar. Sementara itu, pada Januari hingga Agustus 2026, nilainya telah mencapai sekitar Rp850 miliar.
"Artinya ada peningkatan signifikan ekspor dari Maluku," katanya.
Ia mengatakan peningkatan tersebut perlu terus didorong dengan memperbesar volume ekspor sekaligus mengembangkan komoditas lain yang selama ini belum banyak masuk ke pasar internasional.
Ia mengaku telah berdiskusi dengan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mengenai upaya meningkatkan kuantitas ekspor dan mengembangkan komoditas potensial lainnya agar mampu memenuhi permintaan pasar luar negeri.