Pemilihan vaksin ini sangat relevan mengingat tingginya beban kasus penyakit malaria di kedua negara.
"Contohnya, nanti kita akan kembangkan vaksin yang berhubungan dengan malaria. Kita tahu kan penyakit malaria cukup banyak di Afrika, dan di Indonesia juga cukup banyak, khususnya di bagian timur," paparnya.
Untuk merealisasikan hal tersebut, BPOM merencanakan skema uji klinis multi-center di masa depan yang melibatkan peneliti dari Indonesia dan Afrika.
"Dengan masuk uji klinis nanti, variabilitas dari vaksin anti-malaria itu akan lebih luas. Dilakukan di sini (Indonesia) dan dilakukan juga di sana," tambahnya.
Taruna melihat posisi geopolitik dan demografi Ghana sangat strategis bagi penetrasi produk kesehatan Indonesia di pasar internasional yang lebih luas.
"Kita tahu bahwa Ghana ini merupakan pintu gerbangnya untuk Afrika. Jumlah penduduknya kurang lebih 36, hampir 40 juta dengan pertumbuhan yang cukup besar. Ditambah, Afrika memiliki 1,6 miliar penduduk, itu adalah (pasar) yang sangat besar," tegasnya.