NADIKABAR.COM — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menegaskan bahwa penguatan sumber daya manusia dan inovasi teknologi merupakan pilar utama penentu kemajuan ekonomi bangsa.
Dalam kegiatan Puncak Indonesia Research and Innovation Fair (IRIFair) 2026 di Jakarta, Kamis, Kepala BRIN mengutip endogenous growth theory yang dirumuskan oleh Paul Romer, peraih Nobel Prize di bidang Ekonomi pada 2018 yang menyatakan kekuatan ekonomi ke depan akan sangat tergantung pada kekuatan inovasi, pada kekuatan human capital.
"Jadi, human capital dan penguasaan teknologi dan inovasi itu dua kata kunci yang kemudian akan menjadi pilar bagi kemajuan ekonomi," kata Arif.
Arif menyebutkan telah terjadi pergeseran tren global yang sangat signifikan apabila dibandingkan dengan kondisi perekonomian tiga dekade yang lalu.
Jika dahulu kekuatan ekonomi suatu negara murni bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, kini kontribusi tersebut semakin menurun dan telah digantikan oleh kemajuan teknologi.
Berdasarkan analisis indeks inovasi global, kata Arif, skor inovasi sebuah negara terbukti selalu memiliki korelasi yang sangat positif dengan peningkatan pendapatan per kapita tiap tahunnya.
Saat ini, posisi Indonesia masih berada pada urutan ke-55 dunia dalam skor indeks inovasi, yang menandakan bahwa daya saing di sektor lainnya juga berada pada level menengah.
Namun, Kepala BRIN meminta para mahasiswa dan generasi muda untuk tidak pesimistis melihat garis awal perjalanan riset bangsa saat ini.
Ia mencontohkan negara China yang tiga puluh tahun lalu memiliki kondisi serupa dengan Indonesia, tetapi kini berhasil mencatatkan hingga 1,8 juta paten berkat lompatan teknologi.
"Maksud saya apa, yang kecil nggak selamanya kecil, yang besar nggak selamanya besar. Jadi kalau saya tadi menyampaikan posisi kita 55 dunia dalam skor innovation index, dan berarti yang lain-lain juga kira-kira segitu, dan juga berarti top perguruan tinggi 200 dunia juga belum banyak di Indonesia, itu korelasinya sangat nyata sekali. Dan ini menggambarkan bahwa kita punya start, kita punya baseline, sekarang tergantung bagaimana kita meningkatkan kecepatan untuk meraih apa yang kita impikan," ujar Arif.
Oleh karena itu, Arif menekankan penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul harus segera dipacu sebagai tuas pengungkit agar Indonesia mampu melompat menjadi negara maju secara berkelanjutan.