NADIKABAR.COM — Aliran Sungai Mati (Tukad Mati) di Desa Pikat, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali, akhirnya dinormalisasi untuk mengantisipasi banjir jelang musim hujan. Sungai tersebut kerap meluap hingga merendam permukiman warga dan persawahan.

"Warga sangat bersyukur dengan adanya bantuan pengerukan tersebut. Karena setiap musim hujan tiba, sungai mati ini menjadi bencana langganan warga," kata Sekretaris Desa (Sekdes) Pikat, I Putu Merta, kepada NadiKabar, Kamis (3/9/2026).

Putu Merta menjelaskan luapan Sungai Mati biasanya menyasar permukiman warga di Dusun Intaran dan Dusun Buug. Luapan juga merendam area persawahan di sekitar Subak Telaga.

Sungai yang hanya dialiri air saat musim hujan tersebut kerap menimbulkan genangan karena alurnya sempit dan dangkal.

Proses pengerukan sungai telah berlangsung selama 25 hari melalui sinergi anggaran Pemkab Klungkung dan wakil rakyat setempat.

"Normalisasi sejauh ini dilaksanakan selama 25 hari. Biayanya berasal dari Pemkab Klungkung 15 hari dan dari anggota DPRD Klungkung dan Provinsi asal Desa Pikat, sebanyak 10 hari," terangnya.

Meski alur sungai telah dikeruk untuk memperbesar daya tampung air, wilayah tersebut saat ini belum diguyur hujan sehingga dampak normalisasi belum dapat diketahui.

"Sejak dikeruk, kondisi belum ada hujan," imbuh Merta.

Pengerukan di Desa Pikat telah tuntas. Namun, kekhawatiran warga belum sepenuhnya hilang karena kondisi di wilayah tetangga dinilai masih rawan memicu genangan saat hujan deras.

"Namun kondisi sekarang yang masih agak rawan itu aliran dari Sungai Pikat yang ada di Desa Pesinggahan, yang masih belum dinormalisasi. Kemungkinan akan menggenang lagi jika hujan, karena di bagian hilir masih sempit dan belum dalam," pungkasnya.