"Kalau untuk desa uji cobanya, kami di dua desa. Tapi kalau untuk yang sudah kita bagikan, tersebar ke mana aja, ini mungkin banyak karena kami distribusikannya di Forum Komunikasi Petani Milenial DIY," jelasnya.
Lebih lanjut, penggunaan Agriverse kemudian meluas setelah dilakukan sejumlah uji coba di lahan di Kabupaten Sleman dan Magelang. Produk tersebut juga dikembangkan bersama salah satu formulator pupuk di Sleman.
"Setelah itu uji coba pupuknya jadi, kami berkolaborasi dengan formulator pupuk salah satu formulator pupuk di Sleman," kata Arif.
Mahasiswa Prodi Hukum Internasional itu mengatakan dirinya telah memberdayakan lebih dari 200 petani melalui pengembangan Agriverse. Dampak tersebut turut membuat inovasi mereka mulai mendapat perhatian dari sejumlah pihak, termasuk pemerintah daerah.
"Karena saya pribadi juga telah memberdayakan lebih dari 200 petani, itu jadi mulai boom, mulai besar, mulai terkenal di mana-mana. Di dinas-dinas daerah di-notice juga," tuturnya.
Agriverse sendiri memiliki dua jenis pupuk, yakni pupuk vegetatif dan regeneratif. Pupuk vegetatif digunakan sejak tanaman mulai ditanam hingga fase pertengahan pertumbuhan, sedangkan pupuk regeneratif digunakan hingga tanaman berbuah.
"Kami ada pupuk regeneratif dan juga pupuk vegetatif. Nah, kalau untuk vegetatif itu dari awal ditanam sampai pertengahan lah, bisa dibilang pertengahan. Kalau regeneratif itu sampai berbuah. Jadi, dari situlah yang menjadi pembeda," terangnya.