Bank sampah tak serta merta berdiri. Marini mengawalinya dengan melakukan pendekatan persuasif pada warga hingga mendatangi rumah satu demi satu.
"Edukasi setiap ada pertemuan, door-to-door," katanya.
Sistem getok tular di mana warga yang sudah paham memberikan pemahaman pada warga yang lain diterapkan. Warga yang punya pengaruh sosial juga digandeng untuk menyosialisasikan program ini.
Selama 13 tahun bank sampah ini berjalan, Marini melihat perubahan perilaku masyarakat dalam pemilahan dan pengolahan sampah. Dulunya membuang sampah sembarangan, kini warga justru termotivasi, salah satunya dengan adanya insentif ekonomi dari pengolahan sampah.
Nasabah bank sampah tak selalu mengambil uang hasil dari 'menabung' mereka. Uang kerap dikumpulkan untuk dipakai saat dibutuhkan seperti untuk kebutuhan anak masuk sekolah.
Ada juga uang tabunganya dikonversikan dalam bentuk tabungan emas di Pegadaian.
Marini menyebut warga mampu mengumpulkan sebesar Rp1-2 juta per tahunnya. Namun, ada pula nasabahnya yang mampu mengumpulkan hingga Rp1 juta per bulan dari hasil menabung sampah.