Bagi sebagian demonstran, meningkatnya biaya hidup tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi global dan keputusan politik pemerintah. Mereka mendesak agar pemerintah lebih memperhatikan kesejahteraan masyarakat serta dampak kebijakan dalam dan luar negeri terhadap kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, demonstrasi yang mengangkat berbagai tuntutan tersebut tidak serta-merta berarti seluruh peserta mendukung tindakan kekerasan. Kerusuhan muncul ketika sebagian kelompok melakukan perusakan dan bentrok dengan aparat.

Perbedaan ini penting untuk dipahami agar aksi protes sebagai bentuk penyampaian pendapat tidak disamakan dengan penjarahan atau penyerangan terhadap orang lain.

Demonstrasi berubah menjadi kerusuhan

Pada awalnya, demonstrasi di Milan berlangsung sebagai aksi penyampaian aspirasi. Namun, situasi berubah ketika sejumlah demonstran bertopeng mulai melemparkan batu, potongan paving, dan benda lainnya ke arah polisi.

Sebagian massa juga membakar barikade yang dibuat dari meja dan kursi, merusak jendela pertokoan, serta menjarah sejumlah toko di pusat kota.

Polisi kemudian menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kelompok yang terlibat bentrokan. Pengamanan diperketat di sekitar Piazza del Duomo dan kawasan pertokoan, termasuk galeri belanja Galleria Vittorio Emanuele II.

Menurut laporan Euronews pada 18 Oktober, kerusuhan menyebabkan 25 orang terluka dan dibawa ke sejumlah rumah sakit di Milan. Sepuluh di antaranya merupakan personel kepolisian. Sekitar 50 orang juga ditahan setelah aksi tersebut.

Situasi kembali memanas pada Minggu (18/10), ketika ratusan anak muda berkumpul di sekitar Piazza del Duomo. Sejumlah kelompok kembali melakukan perusakan, membalikkan tempat sampah, merusak fasilitas jalan, dan menyerang aparat keamanan.

Polisi kembali melakukan tindakan pembubaran. Insiden tersebut menunjukkan bahwa kerusuhan tidak berhenti setelah demonstrasi hari pertama berakhir.

Perlu digarisbawahi bahwa tindakan kekerasan dilakukan oleh sebagian kelompok, bukan berarti seluruh demonstran yang menyuarakan tuntutan ekonomi terlibat dalam perusakan.

Apakah kerusuhan Milan berkaitan dengan demonstrasi di Prancis?

Waktu terjadinya kerusuhan di Milan yang berdekatan dengan demonstrasi besar-besaran di Prancis membuat kedua peristiwa tersebut terlihat saling berkaitan.

Di Prancis, ratusan ribu orang turun ke jalan pada Sabtu (17/10) untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap kenaikan biaya hidup, kondisi pendidikan, dan memburuknya layanan publik. Demonstrasi yang melibatkan pelajar, serikat pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya itu kemudian diwarnai bentrokan, penjarahan, serta pembakaran bangunan.

Reuters melaporkan pada 18 Oktober bahwa lebih dari 2.400 orang telah ditangkap di Prancis, sementara hampir 1.000 personel kepolisian mengalami cedera. Seorang demonstran juga meninggal setelah mengalami henti jantung ketika aksi berlangsung di Paris.