Kini siklus cuaca kembali berputar, beberapa hari menjelang November, musim penghujan secara perlahan mulai menyapa berbagai pelosok Bali.
Meskipun prediksi puncak curah hujan baru diperkirakan berlangsung pada rentang Januari hingga Februari, tanda-tanda awal berupa munculnya genangan air di sejumlah titik jalan dan wilayah perkotaan sudah mulai terlihat.
Kondisi ini seolah menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi seperti banjir besar, tanah longsor, dan angin kencang harus diselaraskan dengan rasa syukur menyambut musim hujan.
Pemerintah Provinsi Bali melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyadari betul bahwa kewaspadaan tidak boleh kendur. Kepala Pelaksana BPBD Bali Gede Agung Teja menyatakan bahwa langkah antisipasi dan mitigasi telah dirancang sejak dini guna mencegah terulangnya tragedi memilukan seperti tahun sebelumnya.
Koordinasi lintas wilayah menjadi tumpuan utama. Surat imbauan resmi telah dilayangkan ke seluruh pemerintah kabupaten dan kota se-Bali agar seluruh jajaran tanggap darurat dapat menyatukan barisan dan memperketat kesiapsiagaan di lapangan.
Upaya pencegahan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aliran sungai utama, potensi bahaya di ruang-ruang publik juga menjadi atensi serius.