Dalam perintahnya, Jahanshahi juga memperingatkan pasukannya bahwa kelalaian dalam masa perang dapat berakibat serius.

"Dalam kondisi perang, kelalaian atau kecerobohan apa pun dapat menimbulkan konsekuensi yang berat," kata Jahanshahi, sebagaimana dikutip oleh kantor berita Iran, Tasnim, pada Jumat (23/10).

Dia menekankan bahwa menjaga kesiapan operasional yang efektif memerlukan pelatihan berkelanjutan, penilaian akurat terhadap kemampuan militer, koordinasi antar unit, serta identifikasi dan perbaikan kekurangan secara cepat.

Jahanshahi juga menginstruksikan para komandan di semua tingkatan untuk memperkuat kemampuan tempur melalui perencanaan yang cermat, pengawasan berkelanjutan, dan tindak lanjut yang efektif.

Perintah kesiapan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan AS, menyusul berbulan-bulan perselisihan yang terus berlanjut terkait keamanan dan navigasi maritim di Selat Hormuz, jalur perairan strategis untuk pasokan minyak dan gas global.

Iran menegaskan bahwa kapal-kapal militer Amerika Serikat (AS) tidak akan pernah diizinkan untuk memasuki kawasan Teluk "dalam situasi apa pun". Penegasan ini disampaikan di tengah meningkatnya ancaman dari AS, juga Israel, mengenai kemungkinan serangan baru terhadap Iran.

"Kami tidak akan mengizinkan kapal-kapal militer AS berada di Teluk Persia dalam situasi apa pun dan kapan pun," tegas Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Ali Abdollahi, dalam pernyataan terbarunya, seperti dilaporkan televisi pemerintah Iran dan dilansir AFP, Sabtu (24/10).

Abdollahi kemudian mengatakan bahwa Trump "bermimpi" jika ingin melihat pasukan militer AS memasuki kawasan Teluk Persia.