"China Shock" yang kedua berasal dari kemajuan teknologi dan industri terdepan China, misalnya dalam bidang teknologi baterai atau komunikasi. "Kami melihat dampaknya pada masyarakat dan pabrik-pabrik di seluruh Uni Eropa. Hal ini menyebabkan deindustrialisasi pusat-pusat industri di Eropa. Ini tidak dapat ditoleransi," jelas von der Leyen dalam pidatonya mengenai Keadaan Uni Eropa 2026.

Presiden Komisi Eropa itu lantas menegaskan tekadnya untuk menyeimbangkan defisit perdagangan dengan China yang saat ini mencapai sekitar satu miliar euro per hari (sekitar 20 triliun rupiah per hari) sama seperti yang dilakukan AS, serta mengurangi ketergantungan pada bahan baku kritis dari China. "Berkata-kata itu baik, tetapi bertindak lebih baik," tegas Presiden Komisi Eropa tersebut. Ini merupakan seruan tegas kepada Beijing sekaligus sinyal pendekatan pada Washington.

"Dilatarbelakangi persaingan strategis yang terus bereskalasi antara AS dan China, AS mendesak sekutunya untuk memperketat pembatasan terhadap China di bidang teknologi, rantai pasok, dan keamanan," kata Yang Xiepu, Direktur Pusat Kerja Sama China-Jerman di Akademi Ilmu Sosial China (CASS).

Bagaimana jadinya dunia kita jika AS dan China akhirnya bisa mencapai kesepakatan untuk menempuh arah yang sama? Meskipun kedua negara ini sangat berbeda dalam hal politik dan ideologi, apakah persaingan antara dua kekuatan – AS yang mapan dan China yang sedang 'naik pamor' akan berakhir dengan konflik dan perang?

Pelajaran ini dipetik oleh filsuf dan sejarawan Yunani, Thukydides, 2.500 tahun yang lalu lewat perang antara Athena, kekuatan maritim yang sedang naik daun, dan Sparta, kekuatan darat yang mapan.

Beijing dan Washington saling bersaing di berbagai tingkatan, selalu dengan tujuan untuk mengungguli lawan. Di sektor teknologi tinggi, pemerintah AS melarang ekspor cip berkualitas tinggi ke China. Sebaliknya, China membatasi ekspor logam tanah jarang, yang sangat penting bagi produksi semikonduktor. Di bidang Akal Imitasi (AI), China telah memprakarsai kerangka aturan global sedang Trump mendukung deregulasi. Sementara itu, para pemimpin industri AI ingin memperlambat laju perkembangan teknologi tersebut. Selain itu, kedua negara tersebut secara intensif mengembangkan misi ke Bulan, sejak pendaratan terakhir pada tahun 1972.

"Kami akan membahas segala hal," kata Presiden AS Trump menanggapi kunjungan Xi Jinping ke Gedung Putih. Apakah kesepakatan dapat tercapai, masih belum jelas. Menjelang pemilihan sela yang penting pada bulan November, Trump ingin menunjukkan tanggung jawabnya sebagai seorang negarawan dari Partai Republik.

Trump dapat juga menjual produk-produk AS dalam jumlah besar kepada mitra kerjasama yang tergolong sulit, contoh seperti menjual pesawat Boeing kepada maskapai penerbangan China. Kesepakatan penjualan tersebut dibahas selama berbulan-bulan di Gedung Putih, namun belum ada perjanjian pembelian yang berhasil ditandatangani. "Saya akan menjual semuanya," kata Presiden AS itu yakin.

Partai Republik di AS dianggap kompeten dalam bidang ekonomi, meskipun menurut survei mereka tertinggal dari partai oposisi, Partai Demokrat. Jika Trump kehilangan mayoritas di kedua kamar Kongres setelah pemilu sela November mendatang, kinerja pemerintahan dalam dua tahun sisa pemerintahannya akan jadi jauh lebih sulit. Akankah Xi menjadi pendukung Trump dan memesan pesawat Boeing, komoditas kacang-kacangan, hingga daging sapi dari Amerika?