Lebih lanjut, intervensi dilakukan secara konsisten melalui transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore, spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga terus diperkuat.

Erwin menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) di tengah kekhawatiran inflasi global dan outlook fiskal.

Kondisi tersebut mendorong imbal hasil atau yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11 persen, tertinggi sejak 2007.