Semua alasan tersebut mungkin memiliki bagian yang benar. Justru karena itu, kita perlu bertanya lebih dalam: apakah alasan tersebut sedang melindungi keadilan, atau tanpa sadar sedang melindungi keputusan dan harga diri kita? Pertanyaan ini tidak hanya berlaku bagi guru. Ia berlaku bagi siapa pun yang memiliki tanggung jawab untuk menilai orang lain.

Mungkin di sinilah pendidikan perlu memberikan ruang bagi sesuatu yang sering terlupakan: kemampuan memperbaiki diri. Kita tidak membutuhkan pendidik yang tidak pernah salah. Itu hampir mustahil. Kita membutuhkan pendidik yang ketika salah, mampu berkata, "Saya perlu memeriksa kembali." Dan jika ternyata benar salah, "Saya perlu memperbaikinya."

Bayangkan seorang guru mengatakan kepada muridnya, "Setelah saya periksa kembali, ternyata penilaian saya pada bagian ini keliru. Saya akan memperbaikinya." Apa yang dipelajari siswa? Bukan hanya tentang nilai.

Ia belajar bahwa orang yang memiliki otoritas pun tetap tunduk pada kebenaran. Ia belajar bahwa mengakui kesalahan bukan kelemahan. Ia belajar bahwa aturan bukan alat untuk melindungi ego orang yang memiliki kewenangan. Dan ia belajar bahwa keadilan bukan hanya sesuatu yang dituntut dari orang lain. Justru di sini seorang pendidik dapat memberikan pelajaran yang mungkin tidak pernah tertulis dalam silabus.

Karena itu, pendidik membutuhkan lebih dari sekadar aturan penilaian. Kita membutuhkan cermin. Sebelum memberikan nilai, kita dapat bertanya: Apakah saya menilai pekerjaan atau orangnya? Apakah kriterianya sudah jelas? Apakah bukti mendukung keputusan saya? Apakah saya menggunakan standar yang sama? Jika ada perbedaan perlakuan, apakah saya dapat menjelaskan dasar perbedaannya? Dan jika kemudian terbukti bahwa keputusan saya salah: apakah saya cukup rendah hati untuk memperbaikinya?

Namun ada satu hal lagi yang tidak kalah penting. Ketika sebuah kesalahan sudah diperbaiki, persoalan pendidikan belum tentu selesai. Bagi peserta didik, yang dipertaruhkan mungkin bukan hanya angka. Ada rasa percaya kepada guru, kepada proses penilaian, bahkan kepada gagasan bahwa pendidikan memang berusaha memperlakukan mereka secara adil.

Karena itu, mengoreksi kesalahan bukan sekadar mengubah angka. Ia juga dapat menjadi cara memulihkan kepercayaan. Sebab peserta didik mungkin tidak selalu mengingat nilai yang pernah diterimanya. Tetapi ia bisa mengingat bagaimana seorang pendidik memperlakukannya ketika terjadi kesalahan. Menjadi pendidik bukan berarti selalu benar. Menjadi pendidik berarti bersedia terus belajar, termasuk belajar dari kesalahan sendiri.

Animal Farm bukan novel tentang sekolah. George Orwell menulisnya sebagai alegori tentang revolusi, kekuasaan, dan bagaimana cita-cita kesetaraan dapat berubah ketika prinsip tidak lagi diterapkan secara konsisten. Namun, imajinya tetap berguna untuk pendidikan. Bukan karena ruang kelas adalah peternakan Orwell. Melainkan karena pendidikan juga hidup dari prinsip-prinsip yang harus diwujudkan dalam keputusan sehari-hari. Sekolah dapat memiliki slogan tentang keadilan. Guru dapat mengajarkan objektivitas. Kampus dapat memiliki aturan penilaian.

Tetapi pada akhirnya, peserta didik akan mengalami makna semua itu melalui sesuatu yang sangat sederhana: sebuah angka di lembar nilai, sebuah komentar di tugas, sebuah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, atau sebuah keputusan tentang apakah sebuah kesalahan akan diakui dan diperbaiki. Di situlah prinsip yang besar bertemu dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin karena itu, pertanyaan seorang pendidik sebelum memberikan nilai bukan hanya, "Berapa angka yang pantas diberikan?" Tetapi juga, "Apa dasar saya memberikan angka ini?"

Dan ketika suatu hari ternyata jawabannya terbukti keliru, mungkin ada pertanyaan lain yang lebih penting: "Apa yang lebih saya jaga: kebenaran keputusan ini, atau harga diri saya karena pernah membuat keputusan tersebut?"

Kita tidak dapat menjanjikan kepada peserta didik bahwa pendidiknya tidak akan pernah salah. Tetapi kita dapat memberi mereka sesuatu yang lebih berharga: pengalaman melihat bahwa ketika sebuah kesalahan terbukti, kebenaran tetap lebih penting daripada ego. Sebab mungkin pelajaran paling jujur tentang keadilan bukanlah melihat seorang pendidik selalu benar, melainkan melihatnya berani memperbaiki kesalahan ketika ternyata ia tidak benar.

Dan mungkin, tanpa perlu menjadikannya sebuah pelajaran khusus, seorang peserta didik akan membawa pengalaman itu jauh setelah ia lupa angka yang pernah tertulis di lembar nilainya.

*) Sugianto, MDiv, MThDosen STT Reformed Indonesia - Jakarta

*) Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi NadiKabar.com